Outlet agen BRILink di Desa Borimasunggu, Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Jumat (22/5/2026)/FOTO: AGUNG EKA-GOSULSEL

Desa Borimasunggu Maros Naik Kelas, Hadirkan Wisata Mancing hingga UMKM Berdaya

Tuesday, 26 May 2026 | 18:18 Wita - Editor: Agung Eka -

BACA JUGA

MAROS, GOSULSEL.COM – Aktivitas di Desa Borimasunggu, Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan terlihat sibuk sejak pagi, Jumat (22/5/2026).

Di sekolah dasar negeri 159 inpres Tekolabbua, warga sedang mengikuti edukasi literasi keuangan yang digelar BRI Cabang Maros. Adapun yang dibahas adalah transaksi digital lewat aplikasi BRImo.

Kepala Desa Borimasunggu, Syamsurijal (51) juga sedang bersiap berkunjung di beberapa warganya. Kunjungan pertamanya ialah ke salah satu agen BRILink.

PT-Vale

Berangkat dari kantor desanya, jarak ke outlet agen BRILink cukup dekat, sekitar 500 meter. Plang bertuliskan mini ATM BRI serta Toko Alay kelihatan jelas sesampainya di sana.

Melalui agen BRILink, warga desa dapat memanfaatkan berbagai layanan perbankan, mulai setor atau tarik tunai, pembayaran tagihan listrik, hingga top up pulsa.

“Ini agen BRILink yang paling sering dikunjungi warga untuk tarik tunai atau sekadar beli pulsa,” kata Rijal-sapaan akrabnya.

Rijal mengaku, ATM sulit diakses dari desanya. Warga harus menempuh jarak sejauh 10 kilometer ke Ibukota Kabupaten Maros, yaitu Turikale untuk menikmati akses perbankan melalui mesin elektronik tersebut.

Kehadiran agen BRILink pun sangat membantu warga. Tanpa harus ke kota, mereka kini bisa setor dan tarik tunai untuk belanja berbagai kebutuhannya.

“Cuma BRILink yang ada di sini untuk warga,” kata Rijal.

Selain agen BRILink, warga Desa Borimasunggu sudah mulai beralih membuka usaha sendiri. Bukan lagi jadi petani tambak udang atau rumput laut yang merupakan mayoritas profesi di sana.

Salah satu UMKM yang dijumpai Rijal saat itu adalah RR Aluminium, usaha produksi lemari berbahan aluminium yang dikelola oleh Juhria (50).

“Dulunya beliau buka usaha jahit sekarang bisnis lemari aluminium karena melihat potensinya yang besar,” ungkap Rijal.

UMKM ini bukan sekadar mengejar omzet. Lebih dari itu, anak muda setempat juga diberdayakan sebagai tenaga kerja. Ini sekaligus membuka lapangan kerja baru bagi mereka selain menjadi petani.

Pemberdayaan itu turut dibantu BRI melalui suntikan modal berupa Kredit Usaha Rakyat (KUR). Diawal usaha itu dibuka, RR Aluminium mendapat kredit sebesar Rp150 juta.

“Sebenarnya hampir yang punya usaha di sini dapat KUR dari BRI. Cuma kebetulan Ibu Juhria usahanya berkembang jadi dapat kredit yang lumayan besar,” jelas Rijal.

Sementara itu, Juhria mengatakan bahwa BRI memang punya andil besar membantu usahanya berkembang. Dari KUR tersebut, dia tidak hanya memberdayakan anak muda, namun juga meningkatkan produksi.

“Saat ini bisa terima 15 pesanan setiap bulannya, mulai dari lemari aluminium, rak piring, partisi, dan kitchen set. Permintaannya bahkan datang dari luar Maros,” ungkapnya.

Kontribusi besar BRI terhadap Borimasunggu rupanya wujud nyata dari program Desa BRILiaN dengan tujuan pemberdayaan desa untuk menciptakan role model dalam pengembangan desa.

Program Desa BRILiaN mendorong ekonomi kerakyatan dengan mendampingi perangkat desa, pengurus Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), dan pelaku usaha agar lebih mandiri, inovatif, dan tangguh.

Selain UMKM dan agen BRILink, penerapan program Desa BRILiaN lainnya adalah kehadiran BUMDes Mandiri Karya.

Dengan pendampingan BRI, BUMDes Mandiri Karya menggarap potensi ekonomi baru dengan mengubah lahan tidak produktif menjadi destinasi wisata pemancingan.

Lokasi wisata ini terpisah dari pusat desa, tepatnya berada di Dusun Borikaluku. Untuk ke sana, warga Borimasunggu atau pengunjung harus melewati desa tetangga, hingga jalanan yang kecil namun masih mulus.

“Terpisah memang, empat dusun dilewati ke sana, tapi masih bagian dari desa kami. Jadi memang agak unik ini Borimasunggu secara geografis,” ungkap Rijal.

Adapun BUMDes memfasilitasi enam gazebo di lahan satu hektare milik masyarakat setempat. Gazebo itu disewakan kepada pengunjung dengan tarif mulai Rp80 ribu hingga Rp120 ribu tergantung ukurannya.

Adapun 5 persen dari pendapatan bersihnya kemudian dikelola BUMDes Mandiri Karya. Skema pemberdayaan itu salah satunya dengan penyaluran kredit lewat unit simpan pinjam untuk usaha berskala mikro, plafonnya yaitu Rp1 sampai Rp5 Juta.

“Petani juga begitu kalau misalkan butuh modal atau alat, dia bisa ajukan modal dulu nanti setelah panen baru diganti,” lanjut Rijal.

Namun untuk plafon KUR di atas Rp5 juta, BUMDes Mandiri Karya akan menghubungkan pelaku usaha kepada BRI.

Rijal menyebut BUMDes Mandiri Karya juga mengelola unit usaha lainnya, seperti peternakan kambing, budidaya rumput laut, penjualan air minum, penyewaan pikap, dan pertamini.

‘BUMDes mencoba mencari potensi ekonomi lokal di desa kami, masyarakat lalu diberdayakan,” ujarnya.

BRI terus menggalakkan program Desa BRILiaN di Sulawesi Selatan. Selain di Desa Borimasunggu, program ini sudah tersebar di wilayah lain, seperti Tompobulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep; Bacu, Kecamatan Barebbo, Kabupaten Bone; dan Nepo, Kecamatan Mallusetasi, Kabupaten Barru.

Regional Mikro Banking Head BRI Region 15 Makassar, Iwan Suprianto menyampaikan bahwa pihaknya berkomitmen untuk menjalankan program pemberdayaan masyarakat lewat berbagai program.

Desa BRILiaN menjadi salah satu program unggulan dengan memberikan dampak nyata, memperkuat ekosistem ekonomi kerakyatan di pedesaan.

“Ini bagian dari program pemberdayaan yang disiapkan, diberikan oleh BRI. Harapannya juga mereka suatu saat bisa naik kelas menjadi mungkin menjadi unvisible tapi bankable,” tutup Iwan.

Diketahui, BRI kembali memulai program Desa BRILiaN 2026 melalui kegiatan Kick-Off Desa BRILiaN 2026 Batch 1 yang digelar secara daring dan diikuti secara langsung oleh peserta dari seluruh Indonesia pada Kamis (7/5/2026).

Program kali ini mengusung tema “Desa 5.0: Sinergi Teknologi dan Human-Centered Leadership dalam Membangun Future Village Ecosystem yang Berdaya serta Berkelanjutan” sebagai upaya mendorong transformasi desa melalui penguatan inovasi, teknologi, dan kapasitas masyarakat desa. (*)


Tags: