SMA Islam Athirah Kajaolalido menggelar sosialisasi anti bullying di Auditorium Lantai 3 Sekolah Islam Athirah Kajaolalido, Kamis (23/09/2021)

SMA Islam Athirah Kajaolalido Soalisasi Cegah Bullying di Sekolah

Kamis, 23 September 2021 | 23:23 Wita - Editor: Andi Nita Purnama - Reporter: Agung Eka - Gosulsel.com

MAKASSAR, GOSULSEL.COM — Sekolah Islam Athirah Makassar Kajaolalido berupaya mencegah adanya perundungan atau bullying di lingkungan sekolah. Sosialisasi itu pun digelar di Auditorium Lantai 3 Sekolah Islam Athirah Kajaolalido, Kamis (23/09/2021).

Sebanyak 30 siswa yang merupakan agen perubahan pilihan UNICEF dilibatkan dalam kegiatan itu. Mereka ditekankan agar turut mencegah terjadinya perundungan dan mengawasi kasus tersebut. Baik yang berbentuk fisik maupun verbal.

pt-vale-indonesia

Kepala SMA Islam Athirah 1 Makassar, Tawakkal Kahar menyebut bullying dapat mempengaruhi proses belajar mengajar. Sebab, mental siswa dipastikan terganggu.

“Perundungan sangat berbekas dan membuat orang tak bisa bertumbuh,” ujar Tawakkal.

Salah satunya, disampaikan Tawakkal, ialah menertawakan orang yang okkots atau salah pengucapan. Di mana itu merupakan bagian dari perilaku perundungan.

“Ketika teman bicara dan okkots lalu diketawai. Akibatnya banyak orang tidak mau bertanya karena takut kena perundungan,” sebutnya.

Tawakkal juga menyinggung perundungan yang kerap terjadi di media sosial. Hal itu akibat sekolah pembelajaran berlangsung secara daring.

“Kalau mencari kelemahan orang lain, kesalahan orang lain, dan berbuat jahat maka dosanya kembali ke kita lebih banyak,” tutupnya.

Di tempat yang sama, Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Disdik) Sulsel Wilayah II, Fitri Ayu Utami memandang efektivitas belajar mengajar tergantung kondisi sekolah. Untuk itu, ia meminta lingkungan belajar aman, nyaman, menyenangkan, dan inklusif dapat tercipta.

“Itu tidak akan terjadi kalau perundungan masih terjadi di sekolah,” nilai Fitri.

Fitri juga menyebut sebagai sekolah penggerak, SMA Athirah harus menjadi tempat yang aman bagi anak-anak. Ia menyebut ada banyak contoh anak-anak berhenti sekolah karena sering mendapat perundungan.

Terakhir, menurutnya, perlu adanya peningkatan mutu pendidikan karakter kepada siswa. Ia menilai sekolah inklusif akan terbentuk apabila perundungan di sekolah tidak ada lagi.

“Ada anak yang tak mau ke sekolah karena sering diejek. Dampak dari bullying itu luar biasa, bahkan ada yang sampai bunuh diri. Ini terjadi pada level paling dasar sampai paling atas,” tukas Fitri.(*)