foto: dokumentasi gomedia

Kilau Batu Mulia Tergerus Daya Beli

Rabu, 16 September 2015 | 22:21 Wita - Editor: Chaerul Fadli -

Halaman 1

Makassar, GoSulsel.com – Seperti karakternya jika tak digosok, batu mulia bisa kehilangan kilaunya. Begitu juga dengan tren pembelian batu ini yang pelan-pelan redup di akhir September 2015.

Daeng Basrah, penjaja batu mulia di bantaran Jl Perintis Kemerdekaan ini masih menggelar batu-batunya, Rabu (16/9/2015). Meski ia harus merugi hingga 50 persen dari keuntungannya pada saat awal berjualan.

“Awal-awal booming, saya bisa dapat (transaksi) pembeli dari Rp 800 ribu bahkan Rp 1 juta sehari. Tetapi entah apa penyebabnya, pasca lebaran (penjualan) mulai turun. Kadang hanya dapat Rp 200 ribu sampai Rp 500 ribu saja sehari,” katanya. Dia bilang, pembeli masih terhitung ratusan pada pekan terakhir sebelum lebaran Idul Fitrih tahun ini.

Beberapa kilometer dari lokasi Basrah, Sukri masih menggosok-gosok batu mulia di depan Sekolah Polisi Negara (SPN) Batua, Jl Urip Sumiharjo. Dagangan batu-batuannya jarang lagi dilirik pengendara yang melintas. “Memang sekarang sangat jarang orang yang mencari batu (mulia) akik,” ujarnya.

Halaman 2

Sukri mesti jeli melihat pasar. Ia kadang berpindah tempat mencari orang-orang yang membutuhkan pesona batu mulia beragam jenis. “Penjualan tidak menentu, kadang pindah-pindah. Tapi memang kalau sekarang minat masyarakat untuk batu akik itu sudah mulai surut,” katanya.

Pengamat dan Praktisi Bisnis Batu Akik, Mursalim DM mengatakan, redupnya nilai bisnis batu mulia itu bukan akibat kurangnya stok batuan. Tetapi, katanya, kondisi ekonomi saat ini yang tidak kondusif untuk belanja batu.

Hal ini mendorong masyarakat untuk menahan transaksi jual-beli barang-barang konsumtif ataupun barang hobbies. “Daya beli masyarakat mulai berkurang dan semua ini adalah dampak dari kondisi ekonomi nasional,” katanya.

Ia menjelaskan, fenomena booming-nya batu mulia berlangsung beberapa tahun belakangan ini. Itupun tak lepas dari peran media melalui pemberitaan.

Halaman 3

“Nah, ketika tren batu mulia ini ingin booming kembali, maka pemberitaan harus selalu dilakukan,” katanya. Ia mengharapkan keterlibatan pemerintah memberi ruang bagi pengrajin batu dan penjual batu untuk tetap eksis.

Misalnya pada Asean Mayor Forum (AMF) yang belum genap sebulan selesai digelar Pemerintah Kota Makassar. Kegiatan itu dianggap kurang dimanfaatkan sebagai perkenalan batu akik lagi.

“Andaikan saja Pemkota Makassar tanggap saat Asean Mayor Forum kemarin, dan menjadikan batu-batu lokal Sulsel sebagai cendra mata buat para delegasi forum tersebut, maka bisa jadi batu ini akan semakin naik trennya,” ujarnya.

Sama seperti pada Konferensi Asia Afrika di Bandung beberapa waktu lalu. Pemerintah menjadikan batu mulia jenis Pancawarna menjadi suvenir bagi tetamu asing.

Beberapa batuan mulia asal Sulsel cukup dikenal hingga di luar pulau, seperti Sisik Naga, Tampaning, Giok Zebra Wajo, Fire Opal Bone, dan Jusper Luwu Timur. “Bentuk Promosi bisa dalam bentuk festival batu mulia,” jelasnya.

Reporter: Sutriani Nina – Go Cakrawala