Toko Karya Sutera di Jalan Andalas. (Foto: Isnaniah Nurdin).

Karya Sutera, Simbol Kualitas yang Sohor Sampai Pulau Seberang

Sabtu, 10 Oktober 2015 | 09:01 Wita - Editor: Nilam Indahsari - Reporter: Citizen Reporter

Halaman 1

Makassar, GoSulsel.com – Mendekati tahun ajaran baru, orang tua utamanya kaum ibu akan lebih sibuk mempersiapkan kebutuhan sekolah anak-anaknya. Berburu perlengkapan sekolah seperti pakaian seragam, alat tulis, sepatu, dan berbagai kebutuhan lainnya akan menjadi prioritas keluarga.

Salah satu toko pakaian seragam siswa yang masih mempertahankan eksistensinya hingga saat ini adalah toko Karya Sutera. Toko ini berada di Jalan Andalas, Makassar. Merek Karya Sutera sangat populer di kalangan pelajar pada tahun 1990-an. Namun, sebenarnya jauh sebelum itu, merek Karya Sutera telah mampu menarik perhatian konsumen pakaian. Bukan hanya di Makassar namun sampai ke pulau seberang.

Kejayaan Karya Sutera berawal di tahun 1960-an yang dirintis oleh Haji Anwar Asanting, putera kelahiran Sengkang 74 tahun silam. Haji Anwar mengawali usahanya di sebuah rumah kayu kontrakan yang berada di Jalan Andalas (sekarang menjadi kantor PDAM Kota Makassar).

Rumah itu jadi tempat tinggal sekaligus tempat usaha. Ia membuka usaha jahitan dengan menerima pesanan dari orang per orang. Hasil jahitannya disenangi banyak orang dan perlahan namun pasti usaha itu menemukan jalannya menuju tangga kejayaan.

Sepuluh tahun berlalu, usaha Haji Anwar semakin maju dari penjahit rumahan berkembang menjadi usaha konveksi. Pesanan jahitan yang dilayani tidak lagi sekadar dari orang per orang namun juga berasal dari departemen atau instansi pemerintah. Satu instansi bisa memesan pakaian seragam hingga 200 potong dan dalam sebulan pesanan jahitan yang dilayani bisa mencapai ribuan potong.

Halaman 2

Haji Anwar bersama 40 pegawainya bekerja tanpa kenal lelah demi memenuhi harapan pelanggan. Di tahun 1975, Haji Anwar membuka toko Karya Sutera yang sampai saat ini masih bertahan.

Nama Karya Sutera bukanlah sekedar nama, ada makna yang berusaha disampaikan melalui nama itu.

“Karya adalah hasil dan sutera adalah halus. Karya sutera berarti hasil yang halus. Jahitan yang kami hasilkan sangat halus dan dibuat dari bahan berkualitas. Karya Sutera adalah jaminan kualitas,” jelas Ahmad Yani Anwar, putera pemilik Karya Sutera saat ditemui di tempat usahanya (19/06).

Dalam mengelola usahanya, Haji Anwar didampingi oleh isteri, Hajjah Nursiah yang ketika itu berprofesi sebagai perawat. Bagi Haji Anwar, sang isteri adalah sumber inspirasi dan motivator terdahsyat dalam hidupnya.

Hajjah Nursiah adalah alasan bagi Haji Anwar untuk mengembangkan usahanya menembus gerbang kejayaan. Satu-satunya tempat berbagi keluh-kesah, suka dan duka sepanjang hayatnya adalah sang belahan jiwa. Apapun yang dirasakan dan dialami oleh Haji Anwar akan disampaikannya kepada sang isteri. Ketika Karya Sutera semakin berkembang Hajjah Hasnah memutuskan berhenti dari pekerjaannya sebagai perawat, ia lalu fokus membantu usaha suami.

Halaman 3

Banyak kenangan yang tumbuh bersama kejayaan Karya Sutera. Kemahsyuran namanya tersohor sampai ke pulau seberang. Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Ambon mempercayakan pakaian seragam siswanya kepada Karya Sutera, pesanan pakaian seragam sekolah juga datang dari pulau Jawa. Pejabat pemerintah pun tidak ingin memakai pakaian dinas jika bukan hasil Karya Sutera.

Karya Sutera jadi simbol kualitas dan kebanggaan bagi pemakainya. Pengakuan terhadap Karya Sutera datang dari Gubernur Sulawesi Selatan, Ahmad Lamo. Pakaian dinas yang dikenakan gubernur sampai kepada lurah di seluruh wilayah pemerintahan Sulawesi Selatan adalah hasil jahitan Karya Sutera. Betapa hebatnya Karya Sutera masa itu.

Kisah kejayaan Karya Sutera bertahan dari tahun 1970-an sampai awal 2000-an.

“Karya Sutera melayani pesanan pakaian dari departemen atau instansi seperti Departemen Kesehatan, Angkatan Udara, Dolog, dan Pelayaran. Semua departemen memesan pakaian seragam kepada kami, termasuk kantor gubernur. Mulai dari seragam sampai pangkat, dan lambang semua kami yang sediakan,” papar Ahmad Yani.

Jumlah pesanan yang harus disediakannya bisa mencapai ribuan potong dalam sebulan yang dikerjakan 40 penjahit. Omzet yang dikumpulkan dalam sebulan berkisar Rp 50 juta dengan perbandingan ONH saat itu Rp 1 juta untuk satu jamaah.

Halaman 4

Selain menerima pesanan pakaian seragam sekolah dan pakaian seragam departemen, Karya Sutera juga menjual Sarung Sutera, Sarung Bugis, Kebaya, dan Songkok To Bone. Tamu-tamu gubernur dan wali kota ketika berkunjung ke Makassar datang berbelanja ole-ole di Karya Sutera. Toko pakaian seragam seperti Harmonis, dan Garuda Jaya juga mengambil barang dari Karya Sutera.

Di tahun 1985 sampai 1997, Karya Sutera membuka cabang di Jakarta untuk memasok barang dari Jakarta ke Makassar untuk memenuhi permintaan pelanggan. Banyak alasan mengapa memilih Karya Sutera. Antara lain kualitas bahan yang terjamin hanya menggunakan kain Famatex kualitas satu, hasil jahitan yang sangat rapi dan halus, serta standar ukuran.

“Tidak seperti di tempat lain. Hari ini beli celana ukuran 8, besok beli ukuran yang sama tapi besarnya beda,” terang Ahmad Yani, membanggakan karya toko yang dirintis oleh ayahnya.

 

Isnaniah Nurdin