Salah satu gambar dari film dokumenter "Pejuang dari Gua Purbakala" karya Nurtaqdir Anugrah dan Muhammad Fahmi Iskandar. (Foto: Dok. Eagle Award 2015)

Nurtaqdir Ingin Kawasan Karst Maros Jadi World Heritage

Senin, 19 Oktober 2015 | 17:20 Wita - Editor: Nilam Indahsari - Reporter: Nilam Indahsari - GoSulsel.com

Halaman 1

Makassar, GoSulsel.com – Salah seorang sutradara film dokumenter “Pejuang Dari Gua Purbakala”, Nurtaqdir Anugrah, mengatakan, ia mengikutkan film yang ia buat kali ini agar isu tentang karst di Maros mencuat ke pentas nasional.

Selama ini menurutnya, ada beberapa kawannya yang concern terhadap isu karst di Maros selama bertahun-tahun tapi tidak naik di media umum. Karena itu, ia memilih ajang Eagle Award 2015 supaya lebih banyak masyarakat yang tahu persoalan isu yang ia ketengahkan.

“Saya memanfaatkan medium televisi untuk memberi tahu tentang isu ini (situs prasejarah) supaya naik ke permukaan. Tidak hanya soal keindahan dan potensi alam dari kawasan karst,” ujar Nurtaqdir kepada GoSulsel.com, Senin (19/10).

Setelah mengurusi film “Pejuang Dari Gua Purbakala”, rencananya Nurtaqdir akan membuat film yang lain. Namun tetap mengangkat isu karst.

“Sebenarnya masih banyak yang saya mau angkat tapi durasi film untuk Eagle Award terbatas. Saya rencana akan membuat lagi film dokumenter dengan pendekatan yang lebih lain lagi. Tapi isunya tetap karst. Nanti saya akan main ke hal-hal personal,” ungkap Nurtaqdir.

Halaman 2

Ke depan, Nurtaqdir akan membuat film dokumenter dengan gaya ekspositori atau cenderung ke verbal dan meniru gaya naratif National Geographic. Berbeda dengan gaya yang diusungnya di Eagle Award yakni puitic documentary dan observasional.

Dan target Nurtaqdir tak hanya menaikkan isu ini sampai ke tingkat nasional tapi juga ke tingkat dunia lewat United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO).

“Saya tahu bahwa Eagle Award punya Metro TV. Dan saya akan buat film lagi untuk diajukan ke UNESCO,” kata Nurtaqdir.

Menurutnya, kawasan karst sudah layak dinobatkan sebagai salah satu world heritage.

Halaman 3

“Film yang saya buat mirip dengan Cave of Forgotten Dream. Film itu berhasil membuat gua yang ada dalam film itu sebagai world heritage. Seharusnya kawasan karst di Maros bisa juga masuk dalam world heritage karena di sana lebih banyak situs dan juga lebih tua,” pungkasnya.

Cave of Forgotten Dream berkisah tentang Gua Chauvet di Perancis Selatan yang di dalamnya terdapat lukisan manusia yang diprediksi dilukis 32 ribu tahun lalu. Lebih muda dari usia stensil tangan di Leang-Leang yang diperkirakan dilukis 35 ribu sampai 39,9 ribu tahun yang lalu.