Ilustrasi

Polisi Masih Selidiki Kasus Pembunuhan Mapala STIEM Bongaya

Senin, 07 Desember 2015 | 18:04 Wita - Editor: Baharuddin - Reporter: Memed Slamet - Go Cakrawala

Halaman 1

Makassar,GoSulsel.com – Pihak aparat Mapolsekta Rappocini hingga saat ini masih penyelidikan kasus pembunuhan Andi Nizar (25) alias Icca, Mapala STIEM Bongaya, yang ditemukan tewas dengan 12 luka tikaman di depan pintu gerbang Perani Garden  Jl AP Pettarani, Makassar, Minggu (6/12/2015) pagi.

“Dugaan sementara bukan korban pencurian dengan kekerasan (curas) kalau dilihat dari barang bukti yg ada di TKP, handphone uang dan tas milik korban masih ada murni korban pembunuhan,” kata Kapolsekta Rappocini AKP Muari, ketika ditemui, siang tadi.

Muari mengatakan, hasil pemeriksaan tim medis RS Bhayangkara ditemukan ada 12 luka tusukan pada sekujur tubuh korban. “Ada beberapa luka yang cukup besar pada bagian bahu kanan, ketiak kanan, pundak kanan & punggung juga sebelah kanan” urai AKP Muari.

Ia menambahkan, untuk jumlah pelaku masih dilidik, tapi diduga sebelumnya dipepet oleh motor pelaku karena ada bekas terseret di aspal. Pihak aparat sendiri masih melakukan upaya penyelidikan terkait jumlah pelaku. Pasalnya, dari jumlah luka sebanyak 12 tusukan tersebut harus diketahui melalui otopsi terlebih dahulu agar jelas benda apa saja yang digunakan pelaku menghabisi nyawa korban.

“Permasalahannya, pihak keluarga menolak untuk dilakukan otopsi dari pihak RS Bhayangkara, meskipun sudah dijelaskan tujuan otopsi tersebut,” ujarnya.

Halaman 2

Orangtua korban Andi Nurdin mengatakan, pertama mengetahui anaknya jadi korban pembunuhan tadi subuh ketika ditelepon oleh ponakannya di Kabupaten Gowa. Kata dia, selama ini anaknya tersebut tidak pernah cerita soal masalahnya. Ia mengaku tidak menyangka anaknya selama ini punya musuh, pasalnya Nizar dikenal anak yang pendiam.

Dua hari sebelum kejadian, korban menghubungi kekasihnya bernama Tiara di Gorontalo yang bekerja di Kesehatan. “Dia sempat bicara sama pacarnya di Gorontalo. Anak saya pesan agar jaga ibunya sebelum dia pergi jauh” ujar Andi Nurdin.

Nizar merupakan alumni STIEM Bongaya, angkatan 2009 Jurusan Ekonomi. Anak sulung dari 3 bersaudara ini menyelesaikan studinya di STIEM Bongaya tahun 2004. Dia dikenal sangat mencintai organisasi Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) STIEM Bongaya Makassar.

Meski telah menyelesaikan kuliah setahun lalu, Andi Nizar hingga akhir hayatnya ternyata masih aktif di Mapala STIEM Bongaya. Selama hidupnya korban menghabiskan harinya bersama teman-teman sesama Mapala STIEM Kebiasaan begadang ini, membuat Andi Nizar harus merelakan dua pekerjaannya. Andi Nurdin, yang merupakan ayah Nizar menjelaskan, jika anak sulungnya sudah menganggur sekitar 3 bulan yang lalu.

“Setelah lulus kuliah, ia (Andi Nizar) sempat kerja di Permata Finance di Pannampu. Namun karena aktif hingga tengah malam bersama temannya belum bisa ditinggalkan, sehingga berhenti,” kata Nurdin.

Halaman 3

Selain itu, dari penuturan Andi Nurdin, anak sulungnya sering begadang di warung kopi dekat Pasar Pabbaeng-baeng. Diduga kuat korban mendapat luka tikaman di sekitar Man Mode jalan AP Pettarani tak jauh dari Traffic Light persimpangan jalan AP Pettarani dan jalan Sultan Alauddin, lantaran ditemukan banyaknya bercak darah dilokasi tersebut.

Sejauh ini pihak aparat Mapolsekta Rappocini masih mengumpulkan data-data yang sementara dikembangkan. Selain data hasil tes urine, pemeriksaan darah dan hasil rontgen termasuk menghadirkan saksi ahli dari tim medis.

Saat ditemukan tergeletak, korban tidak mengenakan helm pengaman dan bertelanjang kaki. “Mengenai bercak darah disekitar Man Mode, kami masih berkoordinasi dengan Dokpol Bhayangkara. Apakah hasil DNAnya sama dengan korban atau bukan. Kita tunggu hasilnya” ujar AKP Muari (*)


BACA JUGA