Syekh Yusuf, Makam Syekh Yusuf, Jalan Syekh Yusuf, Kolonial Belanda, Cape Town, Wisata Makam, Wisata Makassar
Seorang pengunjung sedang berdiri di depan Makam Syekh Yusuf di Jl Syekh Yusuf, Selasa (01/12/2015). (Foto: Andi Dahrul Mahfud/GoSulsel.com)

Secuil Cerita tentang Syekh Yusuf & Para Peziarah di Ko’bang

Kamis, 10 Desember 2015 | 13:14 Wita - Editor: Nilam Indahsari - Reporter: Andi Dahrul Mahfud - GoSulsel.com

Halaman 1

Makassar, GoSulsel.com – Ada beberapa makam di berbagai belahan dunia yang
diklaim sebagai makam Syekh Yusuf. Pada masing-masing daerah makam itu, tokoh
asal Gowa, Sulawesi Selatan (Sulsel), ini dianggap sebagai pahlawan. Ia belajar ilmu Islam dan tasawuf sambil menjelajahi negara tempat dirinya dibuang.

“Tuanta Ri Salamaka (Syekh Yusuf) melakukan dakwah di berbagai daerah di
antaranya Medan, Srilanka, Afrika, Madura, dan Makassar,” urai Mujiburrahman bin
Abdul Rahim, juru kunci Makam Syekh Yusuf di Makassar, kepada GoSulsel.com,
Selasa (01/12/2015).

Kerena lokasinya di pinggir jalan, yakni Jl Syekh Yusuf (perbatasan Makassar dan
Gowa), tak jarang makam ini ramai dikunjungi oleh berbagai peziarah dan wisatawan.

“Kalau mauko liatki ramai, datang meko pagi sampai sore itu jam 3. Banyak yang
datang ke sini memanjatkan doa untuk beliau,” tambahnya.

Menurut Rahman, warga sekitar khususnya Gowa menyebut situs ini dengan nama
Ko’bang, yang berarti kubah. Nama itu diambil karena berkaitan dengan bangunan
untuk menutupi dari teriknya matahari atau derasnya hujan yang mengguyur. Arti yang lain adalah bangunan yang menyerupai rumah. Namun tak ada sekat di dalamnya.

Halaman 2

Di sisi depan jalan, sudah tersedia perlengkapan untuk berkunjung seperti bunga
pandan dan air bersih untuk nyekar tanpa dipungut biaya sekalipun. Namun untuk
memasuki gerbang, para peziarah diwajibkan untuk berwudhu terlebih dulu sebelum
memasuki Ko’bang. Di dalam, para pengunjung bisa menemui tempat peristirahatan
terakhir Syekh Yusuf beserta istrinya, I Sitti Dg Ni’sanga, dan para pengikutnya.

Menurut cerita Rahman, Syekh Yusuf merupakan tokoh ulama terbesar di jaman
kolonial Belanda. Bahkan karena ketakutan para penjajah terhadapnya, maka
dibuanglah ia ke Afrika Selatan. Sebelumnya, ia sempat ke Banten dan bertemu
dengan Sultan Ageng. Di sana, ia membantu perjuangan Kerajaan Banten dan
akhirnya menikah untuk yang ke-2 kalinya dengan putri dari Raja Banten itu.

Saat Sultan Ageng dikalahkan oleh Belanda, Syekh Yusuf pun ditangkap oleh
pemerintah kolonial itu dan diasingkan lagi ke Sri Lanka. Di daerah tempatnya
dibuang, ia aktif menyebarkan Islam sambil mengajar mengaji. Hal itu membuat
Belanda merasa geram karena mendengar kabar bahwa ia masih menjalani kontak
dengan murid-muridnya di Nusantara. Hingga akhirnya kembalilah ia diasingkan ke
Afrika.

“Nah, saat dikembalikan ke Afrika, akhirnya di sana beliau meninggal. Tapi
sebelumnya meninggal, beliau memang sudah buat wasiat di selembar kain yang
bertuliskan “Jika saya mati nanti, saya sudah siapkan peti mati untuk dibawa pulang”.
Di Afrika sendiri, sudah siap 5 peti mati untuk setiap daerah yang dimana jika setiap
peti itu dibuka, jasad Syekh Yusuf terbaring tak berdaya di dalamnya. Gunanya apa
disediakan 5 peti itu? Agar setiap daerah tidak berkelahi. Karena masing-masing
daerah mau membawa pulang jasad Syekh Yusuf. Ceritanya seperti itu,” Rahman
berkisah.

Halaman 3

Tuanta Ri Salamaka yang berarti “orang yang diberi keberkahan oleh Allah SWT”
dimakamkan di Lakiung, Gowa, pada 6 April 1705. Hingga akrhirnya keranda mayat
itu kembali dimakamkan di Jl Syekh Yusuf hingga saat ini. Para pengunjung tak
hanya datang pada hari raya saja. Tapi juga sepanjang hari lokasi ini ramai diserbu
pengunjung peziarah. Ada yang merayakan kesyukuran, ada pula sekadar untuk
mendapatkan semangat, dan berbagi kebahagiaan. Sebab itu, biasa kita saksikan
ada peziarah yang melepaskan ayam atau kambing sebagai petanda syukur.

“Bukan kepada Syekh Yusuf. Tetapi ini adalah tempat yang pas untuk memanjatkan
kesyukuran (kepada Tuhan) itu,” jelas Rahman.

Di samping itu, Rahman juga menjelaskan, bahwa terkadang ada juga yang
menghamburkan uang logam. Atraksi ini senantiasa menjadi saat yang dinantikan
warga sekitar atau bahkan sesama pengunjung. Para anak kecil akan berlomba
memperebutkan kumpulan uang logam yang berserakan di lantai. Suasana itu malah
mengubah suasana yang tadinya khusyuk jadi begitu riuh.

Berikut foto-fotonya:

Halaman 4

Syekh Yusuf, Makam Syekh Yusuf, Jalan Syekh Yusuf, Kolonial Belanda, Cape Town, Wisata Makam, Wisata Makassar

Halaman 5

Syekh Yusuf, Makam Syekh Yusuf, Jalan Syekh Yusuf, Kolonial Belanda, Cape Town, Wisata Makam, Wisata Makassar

Halaman 6

Syekh Yusuf, Makam Syekh Yusuf, Jalan Syekh Yusuf, Kolonial Belanda, Cape Town, Wisata Makam, Wisata Makassar

Halaman 7

Syekh Yusuf, Makam Syekh Yusuf, Jalan Syekh Yusuf, Kolonial Belanda, Cape Town, Wisata Makam, Wisata Makassar

 

(*)


BACA JUGA