Monumen 40.000 Jiwa, Jalan Langgau, Kolonial Belanda, Wisata di Makassar, Wisata Monumen, Monumen di Makassar
Dg Palli' menunjukkan relief yang menggambarkan peristiwa pada 11 Desember 1946 di lokasi tragedi pembantaian warga oleh Belanda, kala itu. (Foto: Andi Dahrul Mahfud/GoSulsel.com)

Monumen Korban 40.000 Jiwa & Kisah Mereka yang Tumbang oleh Peluru Belanda

Jumat, 11 Desember 2015 | 09:02 Wita - Editor: Nilam Indahsari - Reporter: Andi Dahrul Mahfud - GoSulsel.com

Halaman 1

Makassar, GoSulsel.com – Pernah mendengar aksi penumpasan orang-orang yang dianggap pemberontak oleh Belanda di Makassar? Ya, namanya Korban 40.000 Jiwa, meski sebagian sumber mengatakan tragedi itu memakan korban lebih dari jumlah itu. Di lokasi yang kini beralamat Jl Langgau itu kemudian pemerintah membangun sebuah monumen bernama sama.

Menurut pengamatan GoSulsel.com, monumen ini berada di lokasi yang cukup asri dan bersih. Hal itu karena letaknya tak berada di pinggiran jalan raya namun berada di lokasi kompleks sekitar Jl Pongtiku.

Monumen seluas sekitar 300 meter persegi ini dijaga oleh Dg Palli’. Di dalamnya terdapat sebuah pendopo dengan gaya arsitektur bangunan Jawa. Dan di sampingnya terdapat ruangan yang bertuliskan kata “museum”.

“Monumen Korban ini dibuat tahun 1974 oleh Wali Kota Makasar dulu, namanya Pak Patompo’,” ungkap Dg Palli’ saat berbincang dengan GoSulsel.com sambil mengitari monumen ini, Sabtu (14/11/2015).

Ia pun terus mengisahkan cerita yang diperolehnya dari ayahnya, Palattei Dg Ropu, sewaktu masih hidup. Dg Ropu sendiri merupakan veteran yang setelah pensiun menghabiskan sisa hidupnya sebagai penjaga di monumen itu.

Halaman 2

Menurut kisahnya, para tawanan yang dianggap pemberontak itu berasal dari Kabupaten Barru, Sidrap, Enrekang, Pangkep, Gowa, dan salah satunya Makassar. Mereka semua dikumpulkan untuk dibunuh dengan cara ditembak.

Di relief monumen itu, terlihat gambar peristiwa yang terjadi tahun 11 desember 1946. Masyarakat saat itu mendengar kabar bahwa sebuah negara yang mencakup area Nusantara bernama Indonesia telah diproklamasikan. Namun di tengah euforia itu, Belanda yang jengkel malah mengumpulkan masyarakat untuk diberondong dengan peluru.

Mayat mereka lantas dikuburkan. Lokasi penguburannya belakangan bisa ditandai dengan adalah ruangan museum tadi, tepatnya di belakang para prajurit sedang mengangkat relief berjumlah 6 orang. Ruangan itu mulai saat dibangun hingga saat ini masih kosong.

“Di situmi tempatnya itu dikuburkan korban penembakan. Patung 6 orang itu juga punya arti sendiri, dimana yang mereka angkat itu adalah peti mati para masyarakat pada tahun 1946,” tambah lelaki berkumis tebal ini.

Dg Palli juga menjelaskan, patung yang di sebelah sisi monumen itu berdiri seorang pemuda yang pincang. Itu adalah adaptasi sosok seorang pejuang yang selamat dengan kaki buntung. Ia memegang tongkat sebagai penyangga agar tak jatuh.

Halaman 3

Di samping sebagai salah satu bukti sejarah, monumen ini juga dibangun sebagai bentuk upaya menghormati jasa orang-orang yang dianggap pahlawan.

Tiap tanggal 11 Desember, Pemerintah Kota Makassar selalu memperingati peristiwa pembantaian itu dengan melakukan upacara. Tak lupa juga para veteran dan keluarga korban turut hadir dalam upacara. Isak tangis kadang terlihat saat prosesi berlangsung mengenang peristiwa bersejarah itu.

Bagi para penikmat objek wisata sejarah, lokasi ini mudah dijangkau dengan kendaraan umum atau taksi. Pengunjung tak dikenakan tarif masuk dan bisa mengunjunginya tiap waktu. Namun, sebelum itu harus bertemu dengan Dg Palli’ untuk meminta izin.

Berikut foto-fotonya:

Halaman 4

Monumen 40.000 Jiwa, Jalan Langgau, Kolonial Belanda, Wisata di Makassar, Wisata Monumen, Monumen di Makassar

Halaman 5

Monumen 40.000 Jiwa, Jalan Langgau, Kolonial Belanda, Wisata di Makassar, Wisata Monumen, Monumen di Makassar

 

(*)


BACA JUGA