Andi Mappanyukki, Raja Bone, Raja Gowa
Rumah Andi Mappanyukki di Jl Kumala. (Foto: http://wikimapia.org)

Andi Mappanyukki, Raja Bone & Gowa yang Dibuang ke Tana Toraja

Sabtu, 19 Desember 2015 | 09:01 Wita - Editor: Nilam Indahsari - Reporter: Andi Dahrul Mahfud - GoSulsel.com

Halaman 1

Makassar, Gosulsel.com – Andi Mappanyukki. Nama ini mungkin cukup akrab di telinga warga Makassar. Namun, keakraban ini mungkin tak berbanding lurus dengan pengetahuan tentang sosoknya sendiri. Kali ini, GoSulsel.com mengajak menelusuri sebagian kisah hidup pejuang asal Makassar yang namanya diabadikan sebagai sebuah nama jalan dan nama tempat ini.

Andi Mappanyukki adalah Putra Raja Gowa XXXIV. Di masa kepemimpinannya, ia terkenal sebagai tokoh yang sangat tegas di jamannya. Sebagai seorang raja, ia juga salah seorang pelopor pemersatu Kerajaan Bone dan Gowa. Itu dilakukannya tak lepas dari hubungan darah dengan orang tuanya berasal dari kerajaan yang berbeda.

“Dia terkenal sebagai Raja Bone. Pada waktu itu, dia juga dipanggil untuk memimpin Kerajaan Gowa, dimana ayahnya merupakan Raja Gowa saat itu. Tapi di 1 sisi, Kerajaan Bone juga menginginkan Andi Mappanyukki menjadi Raja Bone, dikarenakan ibunya seorang putri dari Raja Bone. Tapi saya tidak tahu alasannya mengapa kakek saya itu memilih menjabat sebagai Raja Bone dan menempati posisi sebagai Bupati Bone saat itu,” ujar Andi Abdullah Bausawa’, Staf Ahli Wali Kota Bidang 3 yang juga cucu tertua dari anak bungsu Andi Mappanyukki, Kamis (17/12/2015)

Lebih lanjut Abdullah bercerita, pada tahun 1931, atas usulan Dewan Adat, Andi Mappanyukki diangkat menjadi Raja Bone dengan gelar Andi Mappanyukki Sultan Ibrahim. Sebagai Raja Bone, beliau tegas menolak bekerja sama dengan Pemerintah Belanda.

Pemerintah Belanda sendiri menganggap Andi Mappanyukki sebagai tokoh berbahaya. Itu sebabnya, ia kemudian diturunkan dengan paksa dari tahtanya. Ia lalu diasingkan bersama istri dan putrinya di Tana Toraja selama 3,5 tahun.

Halaman 2

“Menjelang proklamasi, beliau juga bertindak sebagai penasihat BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Setelah Indonesia merdeka, beliau menyatakan bahwa Kerajaan Bone merupakan bagian dari Republik Indonesia. Pada masa Republik Indonesia Serikat, beliau ikut menuntut peleburan Negara Indonesia Timur ke dalam RI,” terang Abdullah ketika berbincang dengan GoSulsel.com.

Hingga kini, banyak peninggalan Andi Mappanyukki yang tak diketahui oleh warga Makassar. Menurut pengakuan Abdullah, dulu ketika raja dan putri menikah, maharnya merupakan seluruh tanah dan masyarakatnya. Seperti halnya Makassar ini yang merupakan wilayah kekuasaan Raja Gowa saat itu.

“Peninggalan Andi Mappanyukki itu Babul Firdaus Jl Kumala, mewakafkan SD Jongayya, RS Bhayangkara, rumah sakit haji yang dulunya disebut dengan rumah sakit kusta, kuburan Andi Tonro, Asrama Armed. Banyak pokoknya peninggalan beliau,” imbuhnya.

Ada yang menarik dari cerita Abdullah. Katanya, tiap tahun sering diagendakan beberapa pertemuan melibatkan anak hingga cucu raja se Makassar. Pertemuan itu berskala nasional. Mereka bersilaturahmi antar sesama pemilik darah biru kerajaan.

“Setiap tahun itu biasa kita adakan perkumpulan keturunan raja untuk setiap tahunnya, seperti raja sulsel hingga nusantara. Yang pimpin kita langsung itu Pak Ike selaku Wakapaolda Sulsel yang dimana dia merupakan adik Kapolda Lampung yang sekarang. Namanya Pak Edward yang sampai sekarang masih menjabat sebagi Raja Lampung. Bahklan sampai raja Brunei ada juga yang datang,” ungkap Abdullah.

Halaman 3

Dalam pertemuan itu, kata Abdullah, mereka tak pernah merencanakan sebuah makar. Pertemuan ini hanya sebagai ajang silaturahmi dan saling tahu siapa yang perlu dibantu.

“Yang pertama menjadi pembahasan kita anak dan cucu raja itu, yang pertama, tidak ada dan tidak bakalan pernah melawan pemerintahan yang sudah ada. Kedua, tidak ada niat kita kembalikan kerajaan. Tapi kita tetap bersilaturahmi antar raja dikarenakan kita bersatu dan saling membantu,” bebernya, lagi.

Abdullah mengatakan, persaudaraan antar anak raja hingga cucunya saat ini masih terjalin sangat baik dengan bahu-membahu membantu salah satu dari keturunan itu, seperti pencalonan kepala daerah dan sebagainya.

“Kita membantu secara moril saja. Terpilih tidak terpilihnya, yang penting kita saling membantu hingga akhir,” katanya.

Saat ini kediaman pejuang kelahiran 1885 di Jongayya ini masih berdiri kokoh di Jl Kumala dengan ciri khas rumah panggung. Bagian halaman depannya terdapat sebuah meriam sebagai simbol perlawanan penjajah saat itu. Sejak wafat pada 18 April 1967 di Rantepao, rumah yang tampak sejuk itu dihuni oleh anak dan cucunya.

Halaman 4

Selain sebagai rumah keluarga, rumah itu juga jadi situs sejarah. Sebab di bagian atas rumahnya terdapat tempat persembunyian para pejuang Makassar melawan penjajah, seperti Ranggong Daeng Romo, Daeng Pajonge, bahkan Wolter Monginsidi pernah bersembunyi dari sergapan tentara Belanda. Dan tentu bagi pahlawan yang ada di Makassar.

Andi Mappayukki telah digelari Pahlawan Nasional sesuai SK Presiden: Keppres No 089/TK/2004, tertanggal 5 November 2004. Hingga kini piagam itu masih terpajang di kediaman Andi Mappayukki di Jl Kumala.(*)