Pemulung, Pemulung di Makassar
Seorang pemulung di tengah hamparan sampah plastik. (Foto: Muhaimin/GoSulsel.com)

Zubair, Potret Pemulung di Tengah Mabuk Plastik Masyarakat Makassar

Senin, 21 Desember 2015 | 09:07 Wita - Editor: Nilam Indahsari - Reporter: Andi Dahrul Mahfud - GoSulsel.com

Halaman 1

Makassar, GoSulsel.com – Meski usia tergolong tua, namun tak menyurutkan semangat Zubair (54) menafkahi keluarganya. Ia merupakan salah seorang pemulung yang menggantungkan nasibnya di Kota Makassar dengan jalan mencari barang bekas, plastik botolan, dan karton.

“Pendapatan yah tidak ditau. Tapi biasanya sekitaran Rp 20 ribu per harinya,” ungkap Zubair saat berbincang dengan GoSulsel.com, Kamis (17/12/2015).

Menurut pendapat Zubair, pekerjaan ini dipandang sebelah mata oleh kalangan atas. Meski begitu, ia sangat mencintai pekerjaan ini dengan sepenuh hati dan ikhlas.

Saat ini Zubair tinggal di daerah Antang, dekat dengan Tempat Pembuangan Akhir Antang (TPA) Makassar. Jika ingin membeli barang-barang bekas, para penadah akan mengunjungi rumahnya.

“Pembeli datang di rumah. Rp 2 ribu sampai Rp 3 ribu per kilo dibelikan untuk plastik bekas. Sementara karton dihargai Rp 1 ribu per kilonya,” kata Zubaer dengan harapan.

Halaman 2

Menurut pengakuannya, di samping memulung barang bekas, ia juga mendapatkan gaji Rp 17 ribu per hari. Upah itu hasil jerih payahnya menyapu di salah satu pekarangan hotel yang ada di Makassar.

“Pendapatan dalam sehari alhamdulillah cukuplah untuk makan dan sebagainya,” ungkapnya dengan nada yang cukup pelan.

Namun, di musim penghujan kali ini, dirinya mengaku terbatas dalam bekerja. Untuk menjaga kondisinya tetap fit, ia biasa melakukan kegiatan saat cerah. Dan di musim penghujan, memilih untuk beristirahat.

Zubair adalah salah 1 potret kaum miskin kota di Makassar. Memulung adalah jalan mereka untuk survive. Namun jalan itu memberi kontribusi besar terhadap kota yang orang-orangnya sedang dimabuk plastik.(*)


BACA JUGA