Ilustrasi

955 Calon Kasek Ikuti Tes Wawancara Lelang Jabatan di Makassar

Rabu, 23 Desember 2015 | 00:26 Wita - Editor: Nilam Indahsari - Reporter: Evi Novitasari - Go Cakrawala

Halaman 1

Makassar, GoSulsel.com – Sebanyak 955 calon lelang kepala sekolah mengikuti tes akademik tes tes wawancara yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Makassar. Proses itu terlaksana di SMA Negeri 16 dan SMP Negeri 20 Makassar, Jl Amanagappa, Selasa (22/12/2015).

Para calon kasek ini sebelumnya telah mengikuti tes tulis sebanyak 80 nomor soal pada Senin (21/12/2015).

Berbeda dari tes tulis, para peserta seleksi terlihat lebih panik pada tes wawancara. Itu terlihat dari para peserta yang sibuk menyiapkan dan menghafal materi-materinya masing-masing. Begitu pula saat dihujani pertanyaan dari 2 tim penilai dengan konten pertanyaan yang berbeda, yakni terkait 5 kompetensi dasar kasek. Selain itu juga sinergitas visi misi pemerintah Kota Makassar, seperti mengharuskan seorang kasek menggunakan perangkat information technology demi mendukung Makassar Smart City.

Dari pantauan di salah 1 ruangan tes, yakni ruang 05, saat Dr Rahmawati T MPd selaku tim seleksi dari Pusat Diklat Kepala Sekolah Universitas Negeri Makassar ini bertanya, apa yang dimaksud dengan supervisi klinis. Seketika, terlihat wajah para peserta yang kebingungan serta saling lirik.

“Seperti apa yang bapak ibu lakukan untuk membuat guru di sekolah bapak mau memsupervisi dirinya sendiri dan apa yang Anda lakukan jika ada guru yang protes dengan hasil supervisi?” tanya Rahmawati kepada 5 peserta, Selasa (22/12/2015).

Halaman 2

Didapati beberapa peserta tak paham apa yang dimaksud dengan supervisi klinis yang merupakan keharusan bagi tiap kepala sekolah.

Supervisi klinis adalah supervisi yang difokuskan pada perbaikan pembelajaran melalui siklus yang sistematis mulai dari tahap perencanaan, pengamatan, dan analisis yang intesif terhadap penampilan pembelajarannya dengan tujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran.

Sementara itu, M Subhan dari pihak Ombusdman Provinsi Sulawesi Selatan yang jadi tim seleksi pada tes wawancara itu mengaku menitikberatkan pada larangan pungutan liat (pungli) di sekolah.

“Saya menitikberatkan pada pungli. Jadi di sekolah-sekolah itu harus aman, ini menjadi masalah kita bertahun-tahun. Jadi melalui lelang ini, kita berharap ada kepala sekolah yang muncul untuk memberikan pendidikan yang berkualitas tanpa merugikan orang tua siswa untuk membayar mahal karena semua sudah disediakan oleh negara. Boleh saja ada permintaan sumbangan, tapi tidak boleh ada paksaan,” ujar Subhan, saat diwawancarai di ruang tes, SMA Negeri 16.

Lagi menurutnya, kasek harus punya visi misi yang sama dengan pemerintah kota untuk ciptakan pendidikan yang berkualitas, bebas dari pungli. Dan dia menegaskan akan menindaki kasek yang terpilih nanti jika ada yang melakukan pungli.

Halaman 3

“Jawaban peserta naratif saja, bisa beretorika sebagus-bagusnya. Tapi saya punya penilaian sendiri. Bahkan untuk yang terpilih nanti jika suatu nanti tidak melaksanakan yang sebagaimana semestinya, maka saya sendiri yang akan menindaki,” tegasnya.

Secara teknis, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Makassar, Aryati Puspasari Abady, menjelaskan, bahwa khusus tes wawancara dalam 1 ruang terdiri dari 2 tim penilai, yakni tim dari Pusat Diklat Kepala Sekolah Universitas Negeri Makassar dan tim seleksi dengan konten pertanyaan yang berbeda.

“Ada 2 tim dalam satu ruangan, ada dari Pus Diklat UNM dan Timsel yang berasal dari akademisi, Ombusdman dan lainnya. Untuk tim dari Pus Diklat konten pertanyaannya memang mengenai standar kompetensi untuk kepala sekolah, memperdalam tes tulis kemarin. Tapi kalau untuk timsel (tim seleksi)-nya lebih mengeksplor bagaimana kemampuan calon kepsek (atau kasek) bersinergi dengan program pemerintah kota dengan program yang akan dilaksanakan di sekolah, visi misi wali kota, peluang, dan strategi,” sebutnya saat diwawancarai di ruang panitia.

Puspa juga menjelaskan mengenai penilaian.

“Tidak ada nilai standar, dan tes tulis kemarin dan wawancara bagi Pus Diklat tidak bisa dipisahkan. Kalau timsel itu ada standar, nilainya minimal 73. Dalam instrumen penilaian untuk direkomendasi paling rendah harus 73. Kemudian nanti keluar hasilnya antara yang direkomendasi dan yang tidak direkomendasikan. Yang direkomendasi inilah yang akan diuji publik selanjutnya,” jelas Puspa.

Halaman 4

Adapun hasil tes tulis dan wawancara, menurut Puspa, akan diumumkan Senin (28/12/2015) mendatang. Setelah itu dilanjutkan dengan uji publik.

Perlu diketahui, 955 peserta yang ikut tes wawancara dan tulis berasal dari SD 647, SMP 168, SMA 90, dan SMK 50. Sementara yang dibutuhkan hanya 436 kasek.(*)


BACA JUGA