Terompet, Terompet Karton, Tahun Baru, Jalan Indah Satu, Pannampu
Rusli sedang memasang kertas hologram mengelilingi badan terompet buatannya, Jumat (25/12/2015). (Foto: Muhaimin/GoSulsel.com)

Resah Pengrajin Terompet Karton Pannampu di Tengah Longgarnya Aturan Impor

Sabtu, 26 Desember 2015 | 06:31 Wita - Editor: Nilam Indahsari - Reporter: Muhammad Muhaimin - GoSulsel.comReporter: Muhammad Muhaimin - GoSulsel.com

Halaman 1

Makassar, GoSulsel.com – Memasuki pengujung tahun, membuat beberapa pedagang berlomba untuk mengais rezeki. Seperti yang dialami Rusli (39) dan istrinya Sumarni (34). Mereka ber-2 membuat terompet tahun baru tiap akhir tahun.

“Setiap tahun memang buat terompet,” ujar Rusli saat ditemui di rumahnya di Jl Indah Satu, Kelurahan Pannampu, Kecamatan Tallo, Jumat (25/12/2015).

Namun, peruntungannya tiap tahun berbeda-beda. Dan justru jadi terpuruk ketika terompet buatan China masuk menjangkau pasarnya. Bahkan ada yang terjungkal masuk ke dalam kondisi merugi.

“Di sini lorong dulu hampir semua pembuat terompet biasa 5.000 saya buat kalau menjelang tahun baru. Tapi pas masuk terompet buatan Cina, akhirnya sisa 300 mami. Itu lagi bahan dari tahun laluji sisanya,” katanya.

Terompet karya Rusli terbuat dari kertas karton lalu diberikan botol sebagai alat peniupnya. Setelah itu dihiasi bahan kertas hologram. Jenis-jenisnya pun bervariatif.

Halaman 2

“Pembeli memang sekarang lebih memilih terompet buatan China karena dari bahan plastik. Kalo yang kita buat dari bahan karton, jadi tidak tahan lama. Pembeli biasanya kalo sudah beli pas tahun baru, dia simpan-simpan lagi,” ungkapnya.

Lelaki yang sehari-harinya bekerja sebagai pedagang bumbu masak ke perumahan-perumahan ini kecewa. Tapi tak menurunkan semangatnya membuat terompet tahun baru.

“Terompet plastik juga tidak kalah murahnya dengan terompet kita buat. Kalo saya jual Rp 5 ribu per terompet, kalo yang plastik harganya juga Rp 5 ribu ji. Jadi orang kadang lebih memilih yang terompet plastik,” katanya, menutup cerita.

Resah pedagang musiman seperti Rusli layaknya diperhatikan oleh pemerintah. Melonggarkan aturan impor berarti melakukan pembiaran terhadap nasib Rusli dan rekan seprofesinya yang kian terpuruk.(*)


BACA JUGA