Jalan Sultan Daeng Raja, Pengrajin Bambu Makassar, Jual Bambu di Makassar, Kerajinan Tangan
Jaffar, sedang mengerjakan bambunya, Sabtu (26/12/2015). (Foto: Andi Dahrul Mahfud/GoSulsel.com)

Jaffar, Lelaki yang Bersetia Pada Bambu Hingga “Senja” di Jl Sultan Dg Raja

Minggu, 27 Desember 2015 | 07:51 Wita - Editor: Nilam Indahsari - Reporter: Andi Dahrul Mahfud - GoSulsel.com

Halaman 1

Makassar, GoSulsel.com – Jualan bambu merupakan kesenangan tersendiri bagi Jaffar Abdullah. Selain sebagai mata pencarian, aktivitas ini juga jadi pengisi waktu luangnya yang sudah beranjak tua.

“Kegiatanku di siniji, mulai pagi ada memangma di sini menunggu orang pesan bambu atau langsung beli barang yang sudah jadi seperti tangga, bale-bale, dan lainnya sampai sore,” ujar Jaffar kepada GoSulsel.com yang ditemui di Jl Sultan Dg Raja tempat penjual bambu di mana ia bekerja, Minggu (27/12/2015).

Dengan setianya kepada bambu-bambunya, tak heran beberapa batang bambu hijaunya menghiasi pinggiran jalan di area tempatnya berdagang. Kadang hari-harinya membuat tangga, pagar, kandang ayam, dan banyak lagi yang tentunya berbahan dasar bambu.

“Biasanya bikin kerajinan dari bambu seperti buah lasuji (keranjang buah untuk resepsi pernikahan Bugis Makassar,) tangga, bale-bale, pagar, lasugi pattongko’ (rumah-rumah sebagai gerbang pengantin),” ungkapnya.

Setiap hari, Jaffar kadang tidak mendapatkan orderan apapun dari pelanggannya. Namun, kadang pula membludak di akhir tahun perkara banyaknya acara dan resepsi di pengujung pergantian tahun, menurutnya.

Halaman 2

“Kalau musim orang nikah banyak sekali yang pesan, apalagi lasuji, dan pattongko’ itu sangat digemari. Biasa mulai pagi sampai sore kita kerja bahkan malam sekalipun,” ujarnya.

Ia mengatakan, membuat kerajinan berbahan dasar bambu sangatlah sulit. Soalnya tiap ukur-ukurannya mesti diperhitungkan dengan baik. Ketika ada sedikit saja yang salah ukuran, maka kurang pula pundi rupiah yang didapatkannya.

“Jika dalam kondisi ramai pembeli, bambu-bambu miliknya itu bisa terjual 300 batang per minggunya. Tapi saya tidak terlalu tahu berapa keuntungan, saya cuman jual begitu saja dan jika kondisi sedang sepi, bambu-bambunya bahkan tidak ada yang terjual sama sekali,” imbuhnya.

Jaffar bekerja sebagai pengrajin bambu di tempat ini sejak tahun 1985. Biasanya, kakek berumur 80 tahun lebih ini mendapat pesanan yang banyak di akhir tahun. Saat ini ia mempersiapkan jualannya untuk dikirim ke daerah-daerah Sulawesi Selatan, seperti Sinjai, Bulukumba, Kendari, Enrekang, dan banyak lagi.

Halaman 3

Jaffar menekuni pekerjaannya ini tidak sendirian, melainkan bersama rekan kerja yang salah satunya adalah anaknya sendiri. Ia sering juga membawa cucunya untuk menemaninya di sini, sebagai penghibur kala dirinya tidak mendapat pesanan.

Pria berumur 80 tahun ini tinggal tak jauh dari tempatnya mendirikan bale-bale bambunya, di Jl Langgau Lorong 8. Di sana, ia tinggal bersama anak dan cucunya.(*)


BACA JUGA