Ilustrasi

Uang Beredar di Makassar Hingga Desember 2015 sebesar Rp3,04 Triliun

Selasa, 29 Desember 2015 | 18:41 Wita - Editor: Baharuddin - Reporter: Sutriani Nina - Go Cakrawala

Halaman 1

Makassar,GoSulsel.com – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulsel mengaku penarikan uang dari perbankan pada Desember 2015 sekitar Rp3,04 triliun khusus untuk Sulawesi Selatan saja.

Dibandingkan dengan tahun lalu hanya Rp2,1 triliun, terjadi peningkatan hampir Rp1 triliun untuk kebutuham akhir tahun dan pembayaran proyek-proyek pemerintah.

“Tapi semua sudah terlaksana dan kami sudah meminta perbankan untuk memenuhi ATM-nya supaya tidak terjadi kekurangan stok,” kata Deputi Kepala Perwakilan Kantor Bank Indonesia Sulsel, Causa Iman Carana ketika ditemui, 29 Desember 2015.

Penarikan Rp3,04 triliun itu merupakan penarikan perbankan ke BI untuk kebutuhan masyarakat, baik itu untuk pembayaran proyek-proyek, liburan, kegiatan keagamaan dan tahun baru.

“Indikasinya kami minta rekap pada sejumlah bank yang bertransaksi, mereka minta berapa. Pengeluarannya rata-rata untuk belanja pemerintah,” tuturnya.

Halaman 2

Sementara itu, beberapa waktu lalu, BI juga mengakui akan melakukan optimalisasi distribusi dan persediaan uang tunai jelang Natal dan Tahun Baru 2016.

“Bank Indonesia mengantisipasi kebutuhan masyarakat menjelang Natal dan Akhir Tahun 2015 dengan mempersiapkan pelayanan sistem pembayaran agar dapat melayani kebutuhan masyarakat,” ujar Kepala Perwakilan BI Provinsi Sulsel Dadi Aryadi di Makassar, beberapa waktu lalu.

Melalui siaran pers Departemen Komunikasi BI disebutkan, menjelang Natal dan akhir tahun umumnya terjadi peningkatan kebutuhan uang di masyarakat.

Berkaitan dengan hal tersebut, kata Dadi, dalam rangka memenuhi kebutuhan uang tunai, BI melakukan optimalisasi distribusi dan persediaan uang tunai di Kantor Pusat dan Kantor Perwakilan Bank Indonesia di daerah.

Halaman 3

Selain itu, juga meningkatkan layanan kas kepada masyarakat. Tak hanya itu, dari sisi sistem pembayaran non tunai Bank Indonesia juga telah mengantisipasi kemungkinan lonjakan transfer baik yang dilakukan melalui sistem Real Time Gross Settlement (RTGS) maupun Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI).

“Jadi semua itu sudah diantisipasi, baik untuk layanan tunai maupun sistem nontunai,” tuturnya. (*)


BACA JUGA