Terompet, Kontroversi Tahun Baru Masehi, Tahun Baru 2016, Tahun Baru Masehi, Penjual Terompet, Jalan Mesjid Raya
Di tengah kontroversi tentang perayaan tahun baru Masehi, Masyita malah memanfaatkan momen ini untuk meraup rupiah. Hasilnya, ia gunakan untuk tunjukkan kasihnya kepada anak-anaknya. (Foto: Andi Dahrul Mahfud/GoSulsel.com)

Masyita, Raup Rupiah di Tengah Kontroversi Perayaan Tahun Baru Masehi

Kamis, 31 Desember 2015 | 08:03 Wita - Editor: Nilam Indahsari - Reporter: Andi Dahrul Mahfud - GoSulsel.com

Halaman 1

Makassar, GoSulsel.com – Merayakan tahun baru Masehi bagi sebagian orang dianggap bukan bagian dari budaya atau aturan agamanya. Namun, bagi orang-orang kecil seperti seorang ibu bernama Masyita, momen ini adalah ladang hidup.

Gambaran pembagian kerja yang ideal di masyarakat biasanya adalah ayah mencari nafkah di luar dan ibu mengasuh anak di rumah. Namun, di tengah ketakpastian hidup, Masyita mendobrak pembayangan itu. Di ranah domestik, ia tetap melakukan pekerjaan yang menghasilkan uang.

GoSulsel.com menemui Masyita di sela-sela kesibukannya di Jl Masjid Raya. Ibu dari 4 anak ini tampak bersemangat menjalani hidupnya dengan menjajakan berbagai permainan pra tahun baru itu.

“Setiap tahunnya saya menjual terompet. Yah, bisa dibilang penjual musiman. Karena selain menjual terompet, saya juga jualan nasi kuning bungkus di rumah Jl Pongtiku,” ujar Masyita dengan senyum kepada GoSulsel.com, Selasa (22/12/2015).

Ia tak pernah menaruh cemburu pada ibu-ibu yang cukup santai di rumah mengurus anak-anaknya. Hidupnya yang keras dijalaninya dengan santai. Bagi istri seorang pengemudi bentor (becak motor) ini, membantu suami menyiapkan lauk pauk untuk buah hatinya adalah hal yang patut ia lakoni.

Halaman 2

“Banyak yang bilang, kenapa bukan suami saja yang kerja, urus saja anakmu. Itu kebanyakan orang bilang. Tapi saya pilih bekerja juga karena kebutuhan anak yang paling utama, mulai dari pendidikannya, makannya, semuanya untuk anak. Kalau kami orangtua biarlah ke berapa. Yang jelas anak yang utama,” katanya.

Ia hanya berharap perjuangannya menghasilkan anak-anak yang berguna bagi masyarakat dan menghormati orangtuanya.

“Kasih ibu itu tiada batas ke anak-anaknya. Namun masih ada anak-anak yang tidak menghargai perjuangan ibunya. Semoga dengan kerja kerasku ini bisa mengantarkan anak-anakku sebagai seorang yang berguna dan menghormati orang tuanya. Kalau bisa sekolah yang rajin dan bisa melebihi saya dan bapaknya sebagai yang tidak terlalu seberapa penghasilannya,” ujarnya sambil mengelus kepala anaknya di bawah pohon rindang.

Dalam sehari, suami Masyita biasanya membawa pulang uang sebanyak Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu. Sedangkan ia sendiri rata-rata membawa Rp 50 ribu sehari. Semua uang itu berusaha dicukup-cukupkannya untuk sekolah anak, sewa kontrakan, dan kebutuhan dapurnya tiap hari.

Halaman 3

“Alhamdulillah, berkat kerja keras, 3 orang anakku bisa semuaji sekolah, kecuali yang satu ini, masih kecil belum sekolah,” katanya.

Di tengah kontroversi tentang perayaan tahun baru Masehi, Masyita hanya mengambilnya sebagai momen untuk meraup rupiah. Demi tunjukkan kasihnya kepada anak-anaknya.(*)


BACA JUGA