Pasar Pannampu, Pasar Tradisional, Pasar Tradisional Makassar, Masalah Sampah Makassar, Sampah Makassar, Pengelolaan Sampah di Makassar

Pasar Pannampu, Si Induk yang Selalu Pusing dengan Sampah & Banjir

Jumat, 01 Januari 2016 | 12:10 Wita - Editor: Nilam Indahsari - Reporter: Andi Dahrul Mahfud - GoSulsel.com

Halaman 1

Makassar, GoSulsel.com – Pasar Pannampu telah menggeliat sejak subuh. Di pasar ini, ratusan pedagang dari segala penjuru Makassar. Ada yang bermotor, bergerobak, hingga memanggul jualannya. Mereka tampak begitu cekatan mengurus jualan mereka di selasar blok perumahan Pannampu.

GoSulsel.com saat itu mengitari area pasar yang cukup becek usai hujan mendera beberapa hari sebelumnya. Suasana pasar ini sangat ramai, tawar-menawar terdengar mengisi udara.

Setelah berkeliling, akhirnya kami bertemu dengan salah seorang petugas pasar bernama Syafruddin (54). Di tangannya terdapat segepok karcis berwarna kuning. Adapula pulpen yang tiap saat dipakainya untuk mengecek nomor kios yang ada di lingkungan pasar itu.

Di tengah kesibukannya, Syafruddin masih sempat berbagi cerita tentang pasar ini. Menurutnya, pasar ini adalah induk dari segala pasar di Makassar.



“Pasar Pannampu dibangun sekitar tahun 1979-an, di jaman Soeharto. Inimi pasar induknya Makassar, di Jl Pannampu Makassar bagian utara,” kata Syafruddin ketika bercakap-cakap dengan GoSulsel.com, Sabtu (26/12/2015).

Halaman 2

Di tengah perbincangan dengan Syafruddin, 2 pedagang ikut nimbrung. Mereka berbicara panjang lebar tentang sampah yang ada di sekitar pasar induk Makassar ini.

“Tahun demi tahun setelah ditetapkannya dahulu sebagai TPA (Tempat Pembuangan Akhir) di tahun 1986, kondisi sampah yang berserakan menjadi bagian dari kehidupan warga area Pannampu. Bukan hanya itu, pasar pun ikut tercemar akan hal tersebut,” ujar Syamsul (43), salah seorang pedagang di pasar yang rampung dibangun tahun 1980-an ini.

Kondisi itu bertambah parah ketika musim hujan tiba. Air hujan yang bercampur sampah menghantar bau tengik ke dalam pasar. Tercium pula aneka comberan serta beberapa sisa air genangan yang hitam pekat akibat banjir, beberapa hari sebelumnya. Dan yang paling parah adalah area ini kerap tergenang hingga lutut.

“Bayangkan saja! Kalau musim hujan kemarin airnya itu sampai ke lutut. Tapi meski banjir, tetapji orang jualan dan belanja. Banyak sekali orang yang pake sepatu bot kalau mau belanja di sini,” ujar salah seorang penjual yang tak ingin disebutkan namanya.

Banjir yang menggenang pasar dari dulu sampai sekarang ini biangnya adalah jalan yang terlalu tinggi. Otomatis, posisi pasar dari jalan raya pun jadi rendah. Meski ada usaha pengecoran lantai pasar, namun banjir masih senang berkunjung.

Halaman 3

“Setiap tahunnya pihak pasar dan beberapa petugas bahu-membahu untuk mengecor lantai area pasar. Namun sayang, tetap saja banjir. Air sering menetes deras dari atap meski berbahan dasar cor semen,” ungkap Syafruddin.

Sehabis langit menandaskan hujannya, giliran lalat dan lintah yang merangsek masuk ke meja makan dan dinding lods yang lembab. Kubangan raksasa biasa terbentuk di tengah jalan. Para pedagang dan pembeli pun jadi akrab dengan bau tak sedap yang berasal dari campuran aroma comberan dan anyir tetesan air ikan terjejal.

Saat ini, para pedagang sangat mengharapkan bantuan pemerintah agar pasar seluas 4,9 hektar ini jadi nyaman.

Berikut foto-fotonya:

Halaman 4

Pasar Pannampu, Pasar Tradisional, Pasar Tradisional Makassar, Masalah Sampah Makassar, Sampah Makassar, Pengelolaan Sampah di Makassar

 

Halaman 5

Pasar Pannampu, Pasar Tradisional, Pasar Tradisional Makassar, Masalah Sampah Makassar, Sampah Makassar, Pengelolaan Sampah di Makassar

 

Halaman 6

Pasar Pannampu, Pasar Tradisional, Pasar Tradisional Makassar, Masalah Sampah Makassar, Sampah Makassar, Pengelolaan Sampah di Makassar

 

Halaman 7

Pasar Pannampu, Pasar Tradisional, Pasar Tradisional Makassar, Masalah Sampah Makassar, Sampah Makassar, Pengelolaan Sampah di Makassar(*)


BACA JUGA