Denah Fort Rotterdam, Fort Rotterdam, Wisata Sejarah
Budayawan Djamaluddin sedang berdiri di salah satu bangunan dalam Fort Rotterdam. (Foto: Andi Dahrul Mahfud/GoSulsel.com)

Fort Rotterdam & Kenangan Simbol yang Hidup di Tengah Detak Pengunjung

Sabtu, 02 Januari 2016 | 15:15 Wita - Editor: Nilam Indahsari - Reporter: Andi Dahrul Mahfud - GoSulsel.com

Halaman 1

Makassar, GoSulsel.com – Jika melihat dari udara, akan tampak bahwa bentuk Fort Rotterdam menyerupai seekor penyu. Dan kali ini GoSulsel.com mencoba mencari tahu fungsi tiap bangunan benteng pada denah lama.

Djamaluddin, seorang budayawan, membantu penelusuran ini. Menurutnya, denah dari benteng ini telah berubah. Seperti pintu yang berfungsi sebagai jalan masuk pada jaman Kerajaan Gowa-Tallo.

“Banyak yang tidak tahu lokasi pintu utama benteng ini. Seperti halnya pintu yang kita masuki sekarang ini. Dulunya, itu pintu belakang yang menghubungkan laut lepas. Dan pintu masuknya di bawah Gedung J, di sanalah tempat yang menjadi gerbang utama. Namun sekarang sudah ditutup,” beber Djamaluddin ketika ditemui GoSulsel.com di Gedung Operasional benteng ini, Minggu (27/12/2015).

Lebih lanjut ia menjelaskan, bahwa di masa lampau gerbang benteng yang dijadikan jalan masuk saat ini adalah penghubung. Gerbang inilah yang dilalui jika ingin melakukan perjalanan laut.



Di balik gerbang itu, dulu berjejer berbagai jenis kapal perang Kerajaan Gowa-Tallo. Adapun bibir pantai kala itu tepat berada di lokasi pekarangan. Sekarang titik itu ditandai sebagai tempat parkiran motor dan mobil, dekat dengan patung Sultan Hasanuddin yang sedang berkuda.

Halaman 2

“Jadi sepanjang Jalan Anjungan, Penghibur, Nusantara, semuanya laut lepas. Di sana semuami berjejer kapal perang, kapal nelayannya raja, untuk (tempat) makan masyarakatnya. Pokoknya kalau digambarkan, itu seperti aktivitas penambak ikan, yang mana mereka sibuk memperbaiki kapal dan perbaiki jala, layar, dan sebagainya. Gambarannya seperti itu,” kata Djamaluddin, mencoba memberi gambaran.

Ia pun melanjutkan ceritanya tentang makna permainan simbol penyu dari bentuk benteng ini dari udara. Menurutnya, bentuk ini tak lepas dari filosofi kehidupan raja jaman dahulu, yakni berkuasa di darat maupun lautan.

“Denahnya yang berbentuk penyu ini ada artinya, yaitu hebat di darat dan di laut, dimana penyu merupakan hewan amfibi. Hal tersebut menjadi inspirasi raja dulu karena saat itu Kerajaan Gowa-Tallo lah yang terhebat di Indonesia Timur saat itu,” katanya.

Kejayaan raja Gowa-Tallo ini lantas ditekuk oleh Belanda yang berkoalisi dengan kerajaan-kerajaan kecil saat itu. Benteng dari kerajaan terbesar di Nusantara bagian timur ini pun diambil alih yang membuatnya beralih nama jadi Fort Rotterdam.

Kini, simbol kehebatan itu masih melekat. Namun cerita tentang kehebatan Kerajaan Gowa-Tallo di darat dan laut hanya tinggal kenangan. Kenangan yang hidup bersama detak pengunjung benteng, sedari pagi hingga senja sepenggalah.(*)