Mesjid Tua Katangka, Katangka, Sultan Alauddin, Wisata Tempat Ibadah
Mesjid Tua Katangka di Jl Syekh Yusuf. (Foto: chirpstory.com)

Akulturasi 4 Budaya di Mesjid Tua Katangka Jl Syekh Yusuf

Kamis, 14 Januari 2016 | 12:19 Wita - Editor: Nilam Indahsari - Reporter: Andi Dahrul Mahfud - GoSulsel.com

Halaman 1

Makassar, GoSulsel.com – Pada Akhir abad ke 16, penyebaran agama Islam akhirnya menyentuh kalangan kerajaan yang ada di Makassar. Puncaknya, yakni pada masa Sultan Alauddin. Selain membangun kekuatan militer dan perekonomian yang kuat, Sultan Alauddin yang merupakan raja Islam pertama di Kerajaan Gowa-Tallo, membangun pusat-pusat pendidikan agama Islam, salah satunya mesjid. Menurut salah seorang Staf Budaya Fort Rotterdam, Kamaruddin, di Kerajaan Makassar, mesjid merupakan bagian yang tak terpisahkan. Di Benteng Somba Opu misalnya, di dalamnya juga terdapat mesjid. Namun, mesjid ini ikut lenyap bersama runtuhnya kerajaan itu. Mesjid ini didirikan oleh Raja Tallo. Berdasarkan genealogi, raja ini adalah paman Sultan Alauddin. Ia juga merupakan perdana menteri di Kerajaan Makassar ketika Alauddin bertahta. Seiring runtuhnya Kerajaan Tallo, jejak peradaban Islam ikut hancur. Hanya sebagian kecil yang tersisa. Satu-satunya bukti sejarah adalah sebuah mesjid Al Hilal atau yang lebih akrab disebut dengan nama Mesjid Tua Katangka.

Halaman 2

Mesjid ini masih bisa ditemui kini di Jl Syekh Yusuf, tepat di perbatasan Kabupaten Gowa dan Makassar. Dengan jarak berkisar 10 kilometer dari Lapangan Syekh Yusuf. Warga beragama Islam pun masih ramai beribadah di mesjid tertua ke-9 di Indonesia ini. “Jadi mesjid kita ini bernama Mesjid Tua Katangka yang dibangun tahun 1603, pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-14 yang bernama Sultan Alauddin. Perlu ditegaskan juga, bahwa Alauddin merupakan raja pertama yang menerima agama Islam di Kerajaan Gowa. Mesjid Tua Katangka merupakan mesjid kerajaan juga,” ujar Kamaruddin saat ditemui GoSulsel.com, Sabtu (09/01/2016). Saat ini mesjid ini sudah memasuki 412 tahun. Artinya,rumah ibadah ini sudah berumur 4 abad lebih lamanya. Dalam masa itu, ia sudah mengalami 6 kali renovasi. Renovasi ini diawali pada 1816 atau pada masa Kerajaan Gowa yang ke-30 bernama Sultan Abdul Rauf. “Pemugaran pertama itu pada tahun 1816, yang kedua 1884 oleh Sultan Abdul Kadir. Kemudian pemugaran ke-3 pada tahun 1963 dilakukan oleh Gubernur Sulawesi Selatan dan pemugaran ke-4 tahun 1978 yang dilakukan oleh Dinas Kebudayaan Makassar. Pada tahun 1980 dilakukan pemugaran oleh swada pembinaan cagar budaya. Serta pemugaran ke-6 dilakukan pada tahun 2006-2007 oleh pemerintah dan pengurus Mesjid Katangka,” kata Kamaruddin di sela kesibukannya sebagai tour guide di Ruang Informasi Budaya Fort Rotterdam. Mesjid Tua Katangka sering jadi lokasi mendirikan salat berjamaah, karena dekat dengan Balla Lompoa yang saat itu berada di daerah Katangka. Nama Katangka sendiri berasal dari nama pohon yang merimbun di sekitar area itu. Itu pula yang menginspirasi nama mesjid kuno ini.

Halaman 3

“Kenapa bernama Mesjid Katangka? Itu tidak jauh dari Pohon Katangka yang rimbun dulunya. Di sana sultan salat berjamaah di bawah rindangnya pohon katangka dan akhirnya menjadi lokasi mesjid yang berdiri saat ini,” ungkap Kamaruddin. Bisa ditebak, mesjid ini memiliki penggabungan 4 kultur yang jadi identitasnya. Dilihat dari arsitektur bangunannya, mimbarnya bernuansa Tiongkok, atapnya bergaya Eropa, ukiran kaligrafinya jelas berkultur Timur Tengah, serta tak ketinggalan sentuhan Makassar. “Mesjid ini memiliki 4 akulturasi budaya yang tercampur di dalamnya. Ini menandakan, bahwa masyarakat kita dahulu itu sangat terbuka oleh bangsa-bangsa lain, serta latar belakang bangsa dan agama lainnya,” terang kamaruddin. Yang pastinya, Kamaruddin mengatakan, bahwa mesjid ini memiliki pesan simbolik.

Halaman 4

“Makna simboliknya itu dilihat dari 5 pintu yang menandakan rukun Islam. Kemudian ada 6 jendela yang berarti rukun iman. Kemudian 4 tiang penyangga yang berada di dalam mesjid itu merupakan 5 sahabat nabi yang paling dekat. Kemudian atapnya bersusun 2 itu menandakan 2 kalimat syahadat. Serta pada ujung mengerucut pada atapnya yang berarti Allah SWT itu esa,” tandasnya. Selain itu, Mesjid Tua Katangka bukan hanya digunakan sebagai tempat salat saja. Namun, mesjid ini juga jadi salah satu lokasi untuk melakukan berbagai aktivitas, seperti belajar-mengajar agama Islam, mengaji, dan sebagainya terkait keagamaan hingga saat ini.(*)




BACA JUGA