Ilustrasi

Lelang Kepsek Makassar, 3 Besar Didominasi Kepsek Senior

Jumat, 15 Januari 2016 | 00:08 Wita - Editor: Nilam Indahsari - Reporter: Evi Novitasari - Go Cakrawala

Halaman 1

Makassar, GoSulsel.com – Wali Kota Makasaar beri reward bagi peserta lelang jabatan calon kelapa sekolah (Cakepsek). Penghargaan itu diberikan pada mereka yang masuk 3 besar dari semua tingkatan, baik itu SD, SMP, SMA, serta SMK.

H Munir SAg MAg (50) telah menjabat sebagai Kepala Sekolah di SMP Negeri 30 Makasaar selama 7 tahun dan mampu membawa SMP Negeri 30 Makasar meraih berbagai penghargaan, baik tingkat kota hingga nasional.

Prestasi yang pernah diraih SMP Negeri 30 di bawah kepemimpinan Munir, di antaranya terbaik se-Sulawesi Selatan sebagai sekolah Adiwiyata Mandiri Nasional 2015, Sekolah Model PAI 2014, pelaksanaan program pemerintah MTR 2014, dan Kantin Kejujuran.

Munir yang masuk urutan 3 besar pada peringkat kedua ini
mengaku sangat besyukur atas apa yang diraihnya.



“Saya menerima dengan penuh syukur karena apa yang kita lakukan selama ini sudah sesuai dengan yang dikehendaki oleh pihak pemerintah,” ungkap Munir, Kamis (14/01/2016).

Halaman 2

Munir mengaku, bahwa soal-soal yang disajikan pada saat
tes akademik baik itu uji kompetensi, uji visi misi menurutnya sudah sesuai dengan standar kemampuan seorang calon kepala sekolah di masing-masing tingkatan.

“Karena soal-soal disusun sesuai dengan kompetensi guru. Begitu juga wawancara untuk wawasan dengan visi misi dengan pemerintah kota itu yang digali dan itu yang kami jawab dengan sebaik mungkin dan apa yang telah kami lakukan,” paparnya.

Penghargaan yang diberikan Wali Kota Makassar, Moh Ramdan
Pomanto, terhadap Cakepsek yang masuk 3 besar dijanjikan akan secara otomatis menjabat sebagai kepala sekolah dinilai Munir sebagai motivasi bagi calon kepala sekolah untuk terus meningkatkan prestasinya.

“Suatu motivasi yang sangat bagus, wali kota memberikan motivasi kepada siapa saja bagi yang pantas untuk jadi kepala sekolah karena menjadi kepala sekolah harus menjadi orang yang memiliki kemampuan diatas rata-rata karena akan memimpin guru-guru yang lain agar bisa lebih maksimal,” katanya.

Lanjut, ia mengatakan, bahwa meski proses lelang jabatan
Cakepsek ini baru pertama kali dilakukan, menurutnya sudah cukup baik, karena cukup terbuka.

Halaman 3

Selain dipastikan menjabat sebagai kepala sekolah, para Cakepsek yang masuk 3 besar ini memiliki peluang besar menurut keterangan wali kota beberapa waktu lalu bahwa mereka boleh memilih sendiri di mana mereka akan menjabat. Namun Munir mengaku, dirinya tidak berharap ada peluang demikian.

“Saya berharap tidak diberi peluang begitu karena pandangan kita itu semua sekolah bagus dan peluang serta punya tantangan yang berbeda-beda. Kita ini diangkat untuk bekerja dan itu akan terlihat setelah menjabat nanti apa yang kita raih,” jawab Munir.

Peluang menjadi kepala sekolah sisa menghitung hari lagi. Menyambut itu, Munir mengaku, perbaikan akhlak siswa akan jadi prioritasnya.

“Yang sangat mendesak yang perlu dibenahi adalah akhlak
siswa. Sekarang orang tua siswa banyak keluhkan persoalan ini. Sangat memprihatinkan. Pemerintah harus mengambil langkah strategis, untuk lebih kuat dan intens. Jangan dari sekolah muncul perkelahian, begal tapi sekolah mesti menjadi pencerahan,” pungkasnya.

Hal serupa juga diungkapkan Cakepsek untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) Ajawati (54). Perempuan yang telah menjabat sebagai kepala sekolah selama 16 tahun ini mengaku, sangat berbangga dengan capaian nilai dari tes akademik yang membawanya masuk 3 besar.

Halaman 4

“Saya pasti bangga, bersyukur karena bisa meraih itu. Padahal saya sempat minder karena saingannya banyak sekali dan sudah S2 bahkan S3. Tapi karena kita memang terus belajar dan berusaha menjawab akhirnya mendapatkan hasil yang memuaskan,” katanya.

Selama menjabat sebagai Kepala sekolah di SD Inpres
Maccini Baru, Ajawati berhasil membawa sekolah binaannya
meraih penghargaan sebagai Sekolah Adiwiyata Mandiri 2013, Sekolah Sehat tingkat Provinsi 2011, dan Juara 1 Bank Sampah Sekolah se-Makasaar.

Di akhir pembicaraan, perempuan yang berharap bisa jadi kepala sekolah di masa sebelum pensiunnya ini mengaku, kualitas kepala sekolah di Makasaar khusus perlu untuk dibina dan ditingkatkan. Sebab menurut memang hanya kepala sekolah yang abal-abal.

“Kalau untuk pengembangan pendidikan, saya tidak akan surut. Mau itu jadi guru, pengawas, apapun itu, saya tidak peduli. Banyak kepala (sekolah) masih yang abal-abal. Maka dengan proses rekrutan seperti ini bisa mengikatkan kualitas pendidikan kita,” tutupnya.(*)