Ayam petarung, Pasar Hobi, Pasar Hobi Makassar
Ayam petarung koleksi Alex. (Foto: Andi Dahrul Mahfud/GoSulsel.com)

Sekupasan Azimat di Balik Aksi Jago Ayam Petarung di Makassar

Senin, 18 Januari 2016 | 11:48 Wita - Editor: Nilam Indahsari - Reporter: Andi Dahrul Mahfud - GoSulsel.com

Halaman 1

Makassar, GoSulsel.com – Alex (35) pedagang ayam yang berada di sekitar Pasar Hobi Makassar, Jl Toddopuli Raya juga adalah seorang petarung ayam jago. Aktivitas itu telah dilakukannya sejak beberapa tahun lalu. Bagi seorang pecinta ayam petarung, tentu tahu berbagai azimat dan tata cara membuat peliharaannya jadi jawara.

GoSulsel.com menemui Alex di salah satu lokasi yang cukup dikenal oleh beberapa pedagang hewan di pasar itu. Namanya cukup tenar sebagai pedagang ayam petarung dan unggas yang lain. Namun, Alex tampak merendahkan hatinya dengan menyangkal hal itu.

Sebelum bercerita tentang azimatnya, Alex terlebih dulu mengajak berbincang-bincang seputar jenis ayam petarung yang dimilikinya seperti Ayam Bangkok, Ayam Vietnam, Ayam Shamo, Ayam Burma, yang lain.

“Banyak jenis ayam petarung, seperti Vietnam, Bangkok, Shamo, Burma, dan Bangkok. Tipenya pun berbeda dengan ukuran masing-masing,” jelas Alex yang tampak begitu bersemangat kepada GoSulsel.com. Minggu (17/01/2016).



Ia mengatakan, berbagai macam ayam petarung biasanya adalah hasil dari perkawinan silang. Seperti Ayam Burma yang berasal dari persilangan Ayam Hutan dan Ayam Bangkok. Tujuannya, supaya dihasilkan keturunan ayam yang membawa karakter induk.

Halaman 2

Begitu pula dengan Ayam Shamo yang dikenal juga dengan julukan “Ninja Mini dari Jepang”. Jika dibandingkan dengan ayam aduan yang lain, bentuk fisik ayam ini paling atletis. Satu hal lagi, Ayam Shamo punya “pukulan” yang akurat mengenai lawan.

“Selain itu, Ayam Bangkok dan Vietnam, juga dikenal dari kecepatan gerak dan taji pisau yang mampu melukai lawan,” ungkapnya.

Perihal taji, yang merupakan azimat bagi ayam petarung, bagi Alex, ia mulanya sengaja memotong tajinya. Ini dimaksudkan untuk menyambung taji buatannya yang terbuat dari pisau dengan model yang sudah dibentuk menyerupai belati mini.

“Biasanya kita pakai belati mini, pisau ukuran kelingking yang ditempel menggunakan selotip atau handsaplast sebagai perenggang. Agar bisa juga dari taji bekas yang kita pahat menggunakan gerinda untuk meruncingkan taji dengan melubangi tengahnya agar taji mudanya yang baru tumbuh bisa dimasukkan ke dalam taji buatan itu,” terang Alex.

Ada beberapa cara, menurutnya, untuk meruncingkan taji ayam. Salah satunya bisa menggunakan media pisau tajam. Cara lain adalah menggunakan sebuah silet yang kita kikis secara perlahan hingga mendapatkan taji sesuai keinginan pemiliknya.

Halaman 3

Memasang taji ayam ternyata bukan hal mudah. Sebab perlu kehati-hatian untuk melakukannya. Jangan sampai ayam petarung bisa mati atau cacat.

“Ada banyak metode untuk memasang taji ayam, seperti cabut paksa, potong habis, dan memanaskan besi lalu ditempelkan ke taji agar taji tersebut bisa terlepas sendiri tanpa melukainya. Namun, kebanyakan yang mencabut paksa agar taji muda bisa tumbuh kembali,” katanya.

Dengan terpasangnya taji, Alex mengatakan, ayam aduan atau petarung bisa diperlombakan. Namun tetap dipelihara dan dilatih dengan cara khusus, yakni memijat beberapa pergelangan kakinya. Selain itu, ayam juga dijemur biar tidak berjamur dan sering diberi suplemen agar tetap sehat.

Dengan begitu, ayam yang jadi jawara bisa terjual mahal, hingga jutaan rupiah. Tak sedikit pemilik yang menganggap permainan ini sebagai sebuah hobi menggiurkan. Pasalnya, perlombaannya yang memakan biaya cukup banyak. Namun, bisa membuat mereka memenangkan hadiah yang cukup banyak.(*)