Coppeng, Buah-buahan Makassar, Buah di Makassar, Pasar Pabaeng-Baeng
Jari' (kiri) sedang menjajakan buah coppeng bersama seorang rekannya di Pasar Pabaeng-Baeng, Rabu (20/01/2016). (Foto: Andi Dahrul Mahfud/GoSulsel.com)

Coppeng, Anggur Bugis yang Hujani Januari di Makassar

Jumat, 22 Januari 2016 | 09:38 Wita - Editor: Nilam Indahsari - Reporter: Andi Dahrul Mahfud - GoSulsel.com

Halaman 1

Makassar, GoSulsel.com – Deretan ibu-ibu yang menjajakan buah di pinggir jalan seolah jadi pemandangan yang tak terelakkan kala melintasi sekitaran Jl Sultan Alauddin. Lebih tepatnya lagi di Pasar Pa’baeng-baeng.

Jika melintasi area ini, puluhan wanita lansia dengan payung serta keranjang buah terlihat sedang asik mempromosilkan jualannya sambil berseru, “Siniki!”. Ada juga yang bertanya, “Mau beli coppeng?”

Januari jadi mula waktu dari buah coppeng yang biasa disebut ‘Anggur Bugis’. Dijuluki demikian karena bentuknya yang mirip dengan anggur dan juga warnanya yang ungu gelap. Jika melihat sekilas, Anda bisa saja terkecoh.

Salah seorang perempuan yang memperdagangkan buah ini bernama Jari’ (54). Ia sudah lama menunggu pelanggan di pinggiran jalan yang disinari teriknya matahari siang. Sungguh tampak seperti sebuah tantangan berat kala menjual buah yang paling asyik disantap bersama garam dan gula ini. Apalagi risiko cukup tinggi karena buah ini cepat rusak.



“Cepat rusak ini buah coppeng kalau lamami. Apalagi kalau sering disinari panas matahari. Maka semakin cepat rusak buahnya,” terang Jari’ kepada GoSulsel.com, Rabu (20/01/2016), yang tampak memercikkan air ke dalam keranjangnya yang dipenuhi puluhan liter buah coppeng.

Halaman 2

Jari’ dan kerabatnya sudah sepekan berjualan buah coppeng. Namun dirinya mengaku, terkadang buah ini tak seperti buah mangga dan durian yang ketika musimnya diserbu banyak orang.

“Kurangji yang beli juga. Tapi dari pada tinggal busuk di kampung, mending kita jadikan peluang usaha. Lumayan kalau ada yang terjual, bisa dipakai buat kebutuhan hidup,” ujarnya.

Jari’ memercikkan lagi air ke jualannya. Sambil melakukan hal itu, ia bercerita tentang kampungnya, yakni Kabupaten Jeneponto. Saat ini, daerah yang terkenal tandus ini sedang dianugerahi buah kecil mungil ini. Karena tumbuhnya di daerah pegunungan, buah ini jadi santapan para warga ketika melihat tanaman buahnya yang lain tumbuh mekar. Namun, menurutnya, upaya memetiknya tidak setimpal dengan harga yang ditawarkan di pasaran.

“Kalau mauki ambilki ini (buah coppeng), haruski manjat. Karena tumbuhnya juga di atas gunung, jadi haruski mendaki untuk sampai di pohonnya. Tapi harga jualnya rendah sekali. Tapi maumi diapa. Daripada tinggal, mending dijual. Untung tidak untung, yang jelas ada terjual,” katanya.

Dalam seliternya, Jari’ dan rekannya mengenakan harga yang cukup tinggi, yakni Rp 10 ribu. Namun, harga itu tergantung dari cara menawar para calon pembelinya.

Halaman 3

“Dari harga Rp 10 ribu bisaji ditawar jadi Rp 7 ribu. Kalau beli 2 liter, turun lagi harganya. Pintar-pintar menawar saja,” katanya.

Dalam sehari, Jari’ bisa menjual hingga 2 liter. Namun kadang juga nihil. Ketika hal itu terjadi, Jari’ hanya bisa ikhlas buahnya yang harus dibuang. Karena sudah tak segar lagi seperti saat mulai dipanen.

Musim buah coppeng akan berakhir Maret. Dan setelah itu digantikan oleh buah sirsak yang akan tumbuh di Jeneponto. Ia menganggap, musim sirsak akan lebih membawa rezeki yang lebih dari pada buah berkulit ungu tua itu.

Dalam sebulan, Jari’ dan rekannya membawa sekitar 20 liter coppeng. Jika laku cepat, ia mengatakan akan mengambil buah itu lagi di kampung halaman untuk dijual kembali di pasar ini.(*)


BACA JUGA