Penjual Stiker, Penjual Stiker di Makassar, Stiker Motor, Jalan Landak Baru
Jualan stiker Ipul yang dipanjang di salah satu titik pinggir Jl Landak Baru. (Foto: Andi Dahrul Mahfud/GoSulsel.com)

Sepotong Kisah Ipul yang Berdagang Stiker di Pinggir Jl Landak Baru

Minggu, 24 Januari 2016 | 16:12 Wita - Editor: Nilam Indahsari - Reporter: Andi Dahrul Mahfud - GoSulsel.com

Halaman 1

Makassar, GoSulsel.com – Penjual stiker yang mangkal di pinggir jalan ini bisa kita temui di beberapa pinggir jalan di kota ini. Biasanya, mereka memajang jualannya memakai tali yang diikat kencang di pohon.

Seperti kehidupan Ipul. Lelaki berumur 27 tahun ini menghidupi diri dan keluarganya dari lembaran-lembaran stiker motor. Ia yang tinggal di Jl Tinumbu ini memilih berjualan di Jl Landak Baru.

“Jualan stiker banyak untungnya karena pangsa pasarnya orang yang memiliki kendaraan motor. Bisa kita liat banyak sekali kendaraan saat ini di Makassar. Tentunya butuh renovasi kendaraan, mulai dari warna dan gambar. Nah, itulah banyak pengendara yang mencari penjual stiker di pinggir jalan,” kata Ipul, mengutarakan alasannya berjualan stiker motor, saat berbincang dengan GoSulsel.com, Sabtu (23/01/2016).

Tuntutan kata-kata menarik sekaligus desain gambarnya bagi konsumen, jadi salah satu pekerjaan rumah bagi Ipul. Untuk itu, ia biasanya mencoba mendesain sendiri atau membeli stiker-stiker yang sudah jadi namun berharga miring.



“Kalau desain stiker, semua saya siapkan. Kadang saya juga buat stiker sendiri untuk menciptakan gambar yang dibutuhkan. Namun sebagian juga saya ambil langsung dari Pulau Jawa dengan harga miring,” terangnya.

Halaman 2

Namun sebelum itu, Ipul menggeluti kesehariannya dengan jadi supir truk selama 4 tahun. Ketertarikannya kepada stiker membuatnya melepas pekerjaan itu menjadi supir bahan bangunan saat melintasi Jl Ratulangi Makassar.

“Sebelumnya, ketika masih jadi supir, saya bertanya sama teman-teman dan beberapa pedagang yang katanya banyak untungnya. Seketika itu saya mencoba melepas dan berjualan ala kadarnya,” kenang Ipul.

Selama 7 tahun, Ipul menggeluti pekerjaannya sebagai penjual stiker pinggir jalan. Tak ayal jika pundi rupiah pun kini diraihnya lebih banyak dibandingkan jadi supir truk. Kini, seharinya ia bisa mengantongi keuntungan bersih sekitar Rp 300 ribu hingga Rp 600 ribu.

“Saya ambil stiker yang dari Jawa dengan modal Rp 5 juta awalnya. Lambat laun, ketika melihat hasilnya, saya coba untuk menambah lagi jumlahnya. Setelah itu baru saya nikmati hasilnya yang cukup membantu kebutuhan istri dan anak saya,” imbuhnya.

Selain menjual berbagai stiker, Ipul juga melakoni hidupnya sebagai pengurus mesjid. Mesjid itu berada tak jauh dari tempatnya berdagang, tepatnya di Balai Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Kelurahan.

Halaman 3

“Kebetulan saya dipercaya untuk menjadi salah satu pengelola mesjid di kantor itu. Jadi setiap dagangan yang saja jual itu saya titip di mesjid atas perintah kepala dinas,” ujarnya.

Saat ini, Ipul yang menjual stikernya di pinggir jalan. Namun, ia tetap punya impian atas bisnisnya, yakni memiliki ruko. Sebab selama ini ia terus dihinggapi rasa cemas akan terik matahari atau derasnya hujan.(*)


BACA JUGA