Gafatar
Danny Pomanto (tengah) sedang duduk bersama Koordinator eks-Gafatar asal Makassar, Kamis (27/01/2016). (Foto: Dokumentasi Humas Pemkot Makassar)

Pemkot Makassar Tampung Eks-Gafatar di Asrama Sudiang

Kamis, 28 Januari 2016 | 21:38 Wita - Editor: Nilam Indahsari - Reporter: Evi Novitasari - Go Cakrawala

Halaman 1

Makassar, GoSulsel.com – Wali Kota Makassar, Mohammad Ramdhan ‘Danny’ Pomanto, mengunjungi eks-Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) di Asrama Haji Sudiang, Kamis (28/01/2016). Sejak Rabu (27/01/2016) malam, 171 eks anggota Gafatar yang dipulangkan dari Kutai Kartanegara berada di Asrama Haji Sudiang. Tempat ini difungsikan sebagai pemondokan sementara.

Dalam kunjungannya, Danny mengatakan apa-apa saja yang penting untuk diperhatikan dari para eks-Gafatar ini.

“Hal yang terpenting sekarang adalah memastikan kondisi saudara-saudara kita sehat, terpenuhi kebutuhan makan, minum, dan ada tempat bernaung untuk sementara waktu,” tutur Danny.

Eks-Gafatar asal Makassar akan berada di Asrama Haji Sudiang selama sepekan. Selama dalam penampungan, Pemerintah Kota Makassar berjanji akan memenuhi kebutuhan dasarnya, yakni makan dan minum.



“Kita butuh waktu satu minggu untuk mendata dan melakukan pembinaan dari aspek psikologi serta religi sebelum memulangkan ke keluarganya,” kata Danny.

Halaman 2

Untuk menangani eks Gafatar, Danny menunjuk Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol), Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, dan menggandeng ulama, serta psikolog. Karena menurutnya, ada 2 persoalan utama yang perlu diatasi, dari sisi politik karena ini menyangkut ideologi negara (NKRI) dan sisi sosial, bagaimana membuat eks-Gafatar dapat diterima oleh keluarga dan masyarakat.

Kasma, eks-Gafatar yang ikut dipulangkan semalam bersama Anwar, suaminya, dan anaknya, Christopher, yang berusia 5 bulan, berharap dapat segera bertemu kembali dengan keluarganya di Gowa. Ia juga berharap bisa hidup normal bersama suami dan anaknya.

“Saya 5 bulan di Kalimantan. Berangkat saat anak saya berusia 1 bulan karena diajak teman yang sudah lebih dulu ke sana,” katanya.

Selama 5 bulan berada di Kutai Kartanegara, Kasma mengaku tinggal di sebuah dusun, dan bertani untuk bertahan hidup,

“Kita ke sana karena waktu itu suami saya tidak punya pekerjaan tetap dan ada teman yang mengajak,” lanjutnya.

Halaman 3

Persoalan mata pencaharian yang dikeluhkan eks-Gafatar, dijawab Danny dengan menyiapkan pekerjaan sebagai satuan tugas (satgas) drainase, satgas genangan, dan satgas kebersihan,

“Tanggung jawab kita untuk memulangkan ke keluarganya dengan selamat dan kita bisa bantu mendapatkan pekerjaan setelah melewati pembinaan dan training,” kata Danny.

Jalil, kordinator eks-Gafatar asal Makassar, mengakui, sebelum dipulangkan ke kampung halaman, ia bersama ratusan eks-Gafatar yang lain meminta kepada Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara untuk dilakukan pemurnian akidah.

“Pemerintah kabupaten memenuhi permintaan kami,” ujarnya.(*)