Penyanderaan Berulang di Laut, Pengamat : Seharusnya BIN Punya Strategi

Kamis, 04 Agustus 2016 | 10:32 Wita - Editor: Baharuddin - Reporter: Fauzan - GoSulsel.com

Makassar,Gosulsel.com – Aksi penyaderaan berulang kali terjadi dilaut Sulu, perbatasan Philipina & Indonesia menjadi sorotan sejumlah pengamat. Ironisnya, pelaut asal Sulsel kerap jadi korban penyanderaan oleh kelompok militan Abu Sayyaf.

“Seharusnya BIN memberikan strategi untuk mematahkan insiden ini. Harus ada negosiasi yang baik dengan para kelompok militan. Ini dilakukan agar aksi ini tak terulang lagi. Bisa saja kelompok Abu Sayyaf berpikir Indonesia bisa jadi lahen empuk untuk mencari uang,” kata Pengamat Hukum asal Sulsel, Prof Laode Husain, saat dikonfirmasi Kamis (4/8/2016).

Laode mengungkapkan, setidaknya sejak awal 2014 hingga Kamis 21 juli 2016, kejadian penyanderaan korban yang notabene merupakan pelaut Indonesia dan beberqpa diantaranya adalahxpelaut asal Sulawesi Selatan terus berulang. Namun sebagai salah satu institusi yang memiliki peranan penting dalam pengamanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), masukan Badan Intelijen Negara (BIN) juga diperlukan.

Kata dia, apalagi sistem pengamanan yang dilakukan BIN identik dengan operasi senyap atau silent untuk mengetahui keberadaan bahaya yang mengancam NKRI. BIN yang memiliki tugas mendeteksi dini keberadaan pasukan bersenjata seperti Kelompok Abu Sayyaf, tentunya berperan penting dalam memberikan masukan kepada presiden.



Selain itu, lemahnya pemerintah Indonesia dan kurangnya komitmen negara tetangga khususnya Filipina dalam menangani kelompok militan seperti Abu Sayyaf, juga menjadi salah satu penyebab insiden tersebut terus berulang.

Halaman: