Front Masyarakat Sulsel Bermartabat Sampaikan Petisi Kecaman Pernyataan Mahathir ke Gubernur

Jumat, 03 November 2017 | 14:01 Wita - Editor: Baharuddin - Reporter: Mirsan - Go Cakrawala

Makassar, GoSulsel.com –  Pernyataan mantan perdana menteri Malaisya Mahathir Mohamad yang menghina suku Bugis menuai kecaman dari berbagai elemen masyarakat Sulsel. Salah satunya, dari Front Masyarakat Sulsel Bermartabat.

Kelompok masyarakat yang di dalamnya kelompok jurnalis, budayawan dan aktivis inu menyampaikan kecamatan tersebut ke Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, di kantornya, Jumat (3/11/2017).

Front Masyarakat Sulsel ini menilai pertanyaan Mahathir Mohamd telah melukai perasaan masyarakat Sulawesi Selatan dan di dalamnya terdapat empat etnis yaitu Makassar, Bugis, Mandar dan Toraja.

Pidato mantan pemimpin Malaysia yang disegani pertama kali pada 14 Oktober lalu disampaikan pada acara Himpunan Rakyat Sayangi Malaysia, Negara Malaisya.

Dalam pidatonya, Mahathir menyebut keturunan bugis sebagai orang-orang lanun (perompak) bahkan secara gamblang menyebut julukan pencuri, penyabung, bahkan perompak kepada orang bugis. 

Diduga, Mahathir melontarkan pidatonya untuk menyerang lawan politiknya perdana menteri Datuk Seri Najib Tum Razak yang memiliki darah keturunan Bugis.

“Mungkin kerana dia (Najib Razak) berasal dari lanun Bugis. Entah macam mana dia sesat sampai ke Malaysia. Pergi balik kah ke Bugis,” kata Mahathir dalam pidatonya.

Tidak hanya sampai di situ, di hadapan ribuan pendukung Mahathir yang bersorak memberi dukungan, tokoh senior Malaysia ini juga mengatakan.

“Kita hari ini dipimpin oleh Perdana Menteri pencuri, penyabung, perompak. Inilah negara kita hari ini, dimana dia berasal dari tanur Bugis. Kembalilah ke Bugis. Pencuri duit kita untuk kesenangan mewah dirinya dan keluarganya,” lanjutnya.

Hingga saat ini Mahathir belum memberikan klarifikasi dan permintaan maaf yang dianggap melanggar batas kesopanan dan norma toleransi dalam beragama.

Pidato yang melecehkan masyarakat Sulsel ini, dan Indonesia mendapat direspon terbuka. Apalagi hingga saat ini Mahathir Mohammad belum memberikan klarifikasi dan permintaan maaf yang dianggap melanggar batas-batas kesopanan dan juga norma-norma toleransi dalam keberagaman.

Ada tiga petisi yang dibacakan oleh perwakilan Front Masyarakat Sulsel, Herwin Bahar, tuntutannya yakni:

1. Mendesak gubernur dan ketua DPRD Sulsel bersikap atas pernyataan Mahatir Mohamad sekaligus memberi jawaban terbuka bahwa setiap suku di Sulsel adalah sama di mata masyarakat

2. Mendesak seluruh elemen masyarakat Sulsel untuk memberi waktu kepada pimpinan pemerintahan di Sulsel bersikap 7×24 jam merespon tuntutan ini

3. Jika tuntutan tidak dipenuhi, mengajak seluruh masyarakat Sulsel untuk mengikuti apel akbar 9 November di Monumen Mandala Makassar.(*)