Diskusi Buku Hidup Damai di Negeri Multikultur Digelar di UIN Alauddin

Minggu, 26 November 2017 | 12:40 Wita - Editor: Irfan Wahab - Reporter: Citizen Reporter

Gowa, GoSulsel.com – Buku “Hidup Damai di Negeri Multikultur” (GPU, 2017) ditulis oleh Forum Alumni Muslim Exchange Program (MEP) Australia-Indonesia yang telah diluncurkan di Kedubes Australia beberapa bulan lalu yang dilanjutkan dengan bedah buku di Universitas Paramadina, Jakarta 25 Oktober 2017 dan UIN Alauddin Makassar, Senin (27/11/2017).

Buku yang dikerjakan selama dua tahun dengan kontribusi 77 penulis Indonesia dan Australia tersebut diberi kata pengantar oleh Dubes Australia Mr. Paul Grigson dan Pendiri MEP Prof (emeritus) Virginia Hooker serta epilog dari Program Manager MEP Rowan Gould dan Brynna Rafferty-Brown.

Dalam acara diskusi buku di Makassar yang rencana dibuka oleh Konjen Australia di Makassar Mr Richard Mathews, akan diisi oleh para alumni MEP, yaitu Yanuardi Syukur (MEP 2015), Farinia Fianto (MEP 2005), Aan Rukmana (2007), dari Guru Besar UIN Alauddin lulusan The Australian National University Prof. Hamdan Juhannis.

“Buku yang berisi pengalaman dari peserta MEP ini sangat penting untuk mempererat jejaring para tokoh muda Muslim di Indonesia dan Australia serta untuk memperkuat kemitraan strategis antar kedua negara,” kata Yanuardi Syukur, Ketua Forum Alumni MEP Australia-Indonesia yang juga inisiator buku tersebut.

Menurutnya lagi, dalam buku tersebut para penulis bercerita bagaimana kesan, pendapat, dan ide-ide mereka terkait pentingnya kerjasama antar masyarakat Indonesia dan Australia. Diantara mereka ada yang membahas tentang harmoni, dakwah, kehidupan multikultural, pemberdayaan perempuan, pendidikan, dan lain sebagainya. Mereka bercerita tentang apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan selama mengikuti program MEP.

“Buku ini merupakan inisiatif yang penting dalam upaya untuk merawat dan menjaga hubungan baik antara dua negara lewat peran para tokoh muda muslim,” kata Aan Rukmana, alumni MEP yang saat ini mengajar di Universitas Paramadina dan peneliti di Paramadina Institute of Ethics and Civilization (PIEC).

Sementara itu, Farinia Fianto menjelaskan bahwa program MEP berguna untuk menumbuhkan semangat berprestasi dan berkontribusi bagi anak muda Indonesia.

“Di tengah tantangan global, saat ini dibutuhkan sekali peran anak muda muslim untuk berjejaring dan berkontribusi pada perdamaian dan kerjasama di tingkat yang lebih luas,” kata Farinia yang lulusan Leiden University, Belanda.

Pada tahun 2017 ini, lewat Australia Grant Scheme (AGS), buku “Hidup Damai di Negeri Multikultur” ini pun dibedah di Jakarta (Universitas Paramadina) dan Makassar (UIN Alauddin) dengan menghadirkan para alumni MEP.

Di Jakarta, kegiatan diskusi buku ini diselenggarakan oleh Forum Alumni MEP Australia-Indonesia dengan supporting dari program Australia Grant Scheme (AGS) Australia Awards Indonesia bekerjasama dengan Paramadina Institute of Ethics and Civilization (PIEC).

Sementara itu, di Makassar bekerjasama dengan UKM Seni Budaya ESA dan UKM Washilah serta berkoordinasi dengan Konjen Australia di Makassar, akan digelar di ruang rapat Senat Gedung Rektorrat lantai IV Kampus II UIN Alauddin, Jalan H M Yasin Limpo No 36, Samata, Kabupaten Gowa pada Senin 27 November 2017 pukul 13.00. (*)