Kepala Pusat Pengendalian Mutu Balai Besar Karantina Ikan, Pengendalian Mutu (BKIPM) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Widodo Sumiyanto

Sulsel Konsumsi Ikan Tertinggi di Indonesia

Selasa, 28 November 2017 | 12:43 Wita - Editor: Irfan Wahab - Reporter: A Nita Purnama - GoSulsel.com

Makassar, GoSulsel.com – Sulawesi Selatan merupakan salah satu produsen ikan di Indonesia dengan produksi perikanan sebesar 3,9 juta ton pada tahun 2016.

Sulawesi Selatan juga merupakan provinsi dengan tingkat konsumsi ikan tertinggi di Indonesia yang mencapai angka 80 kg per kapita per tahun.

Produksi perikanan Sulawesi Selatan berasal dari produksi perikanan budidaya dan perikanan tangkap.

Keberadaan Sulawesi Selatan memiliki peran penting dalam kelancaran arus lalu lintas ekspor dan impor komoditi perikanan di Indonesia Timur.

“Makassar menyumbang ekspor ikan 15% secara nasional. Total nilai dan volume ekspor dari Makassar cukup tinggi. Dan kasus internasional tidak ada berasal dari Makassar,” ujarWidodo Sumiyanto.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Balai Besar Karantina Ikan, Pengendalian Mutu (KIPM) Makassar menyampaikan bahwa Sulawesi Selatan juga merupakan pintu ekspor utama untuk komoditi perikanan dan kawasan timur Indonesia sehingga memiliki peran penting dalam kelancaran arus ekspor dan impor.

Komoditi perikanan yang berasal dari Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Maluku, Maluku Utara dan Papua diolah pada 86 Unit Pengolahan Ikan (UPI) Unit Pengolahan Rumput Laut (UPRL).
Sistem pengendalian jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan sangat penting dalam rangka pemenuhan persyaratan ekspor dari negara tujuan.

“Di Sulawesi Selatan terdapat 86 UPI maupun UPRL yang melakukan ekspor komoditi perikanan yang bahan bakunya berasal dari berbagai wilayah seperti Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Maluku maupun Papua,” jelasnya.

Dikatakannya, berdasarkan data yang ada produksi rumput laut Kalimantan Utara juga banyak diekspor melalui pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar. Volume ekspor Sulawesi Selatan pada tahun 2016 mencapai angka 12.098 ton atau senilai US$ 94,4 juta.

“Tahun 2017 terjadi peningkatan ekspor yang cukup signifikan,” lanjutnya.

Hingga bulan Oktober 2017, volume ekspor komoditi perikanan telah mencapai 20.998 ton dan diproyeksikan akan mencapai angka 25.197 ton pada akhir tahun 2017 atau meningkat 108,27% daei volume ekspor tahun 2016.

Lebih lanjut, untuk meningkatkan ekspor, salah satu indikator sistem jaminan mutu sesuai dengan standar internasional adalah produk perikanan yang dihasilkan mampu ditelusuri asal bahan bakunya. Penerapan sistem ketelusuran telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari mata rantai produksi, distribusi dan konsumsi produk pangan.

“Dengan penerapan sistem traceability yang baik, diharapkan komoditi perikanan Sulsel dapat diterima secara luas, khususnya negara maju yang semakin meningkatkan volume ekspor komoditi perikanan Sulsel dengan diterapkannya sistem ini,” paparnya.

Perlu diketahui, sistem traceability merupakan salah satu syarat dalam pelaksanaan Sistem Jaminan Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan. Agar suatu produksi dapat ditelusuri riwayat asal maupun rantai distribusinya dengan mudah, produsen harus memiliki catatan dan mendokumentasikan informasi mulai dari bahan baku, proses pengolahan selama distribusi/penyimpanan, pemasaran hingga ke tangan konsumen. (*)