Ini Pesan SYL di Hari Jadi Luwu ke-750 dan HPRL ke-72

Kamis, 25 Januari 2018 | 10:20 Wita - Editor: Irfan Wahab - Reporter: Mirsan - Go Cakrawala

Luwu, Gosulsel.com – Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel), Syahrul Yasin Limpo (SYL) hadir pada acara peringatan Hari Jadi Luwu ke-750 dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu Ke-72 yang tahun 2018 ini dipusatkan di Lapangan Taman Siswa (Tamsis), Masamba, Luwu Utara, Rabu (24/1).

Tanah Luwu Raya sendiri saat ini merupakan wilayah yang beradabdu daerah Kota Palopo, Kabupaten Luwu, Kabupaten Luwu Timur dan Kabupateb Luwu Utara.

Pada kesempatan tersebut, SYL mengajak masyarakat untuk meneladani nilai dan semangat juang dari para pejuang pendahulu.

Serta kembali mengenang sosok seorang raja sekaligus seorang pemimpin yang memiliki semangat nasioanal yang tinggi, mendiang Datu Luwu Andi Jemma.



Betapa besar peran perjuangan rakyat Luwu pada Republik Indonesia dan begitu tegas dan tulusnya Andi Djemma menyatakan sikap kedatuan Luwu berdiri dibelakang Proklamasi dan menjadi bagian dari Republik Indonesia.

Oleh karena itu yang esensi adalah dalam setiap momen bersejarah ini, mencontoh kepeloporan para pejuang dan pemimpin masa lalu dan bangga terhadap apa yang telah dicapai oleh mereka.

“Demikian juga dengan saya. Mungkin ini karena ayah saya, HM Yasin Limpo tidak pernah berpisah dengan Andi Djemma, kalau begitu ini bagian dari perayaan adalah kita diajak menghadirkan kebesaran Luwu,” katanya.

Hari jadi ke-750 menjadi kristalisasi dari apa yang ada di masa lalu untuk dihadirkan hari ini oleh generasi mendatang.

Kerajaan Luwu juga memiliki peran penting dimasa lalu yang juga mewarnai kehidupan masyarakat Sulsel saat ini.

“Di Luwu, syiar Islam pertama kali dihadirkan di kawasan timur Indonesia, kerajaan dan kedatuan Luwu menghadirkan kerjaan lain di Sulsel seperti kerajaan Gowa, Kerajaan Bone dan Kerajaan Soppeng. Kitab La Galigo juga menjadi warisan dunia,” urai Syahrul YL.

Selain itu, Ia juga menjelasakan begitu banyak sumbangan Kedatuan Luwu bukan hanya untuk Sulsel dan Indonesia tetapi di mancanegara. Dari catatnya terdapat delapan kesultanan di Malaysia memiliki darah keturunan Luwu, Thailand dan Philipina juga memiliki pimpinan keturunan Luwu.

Baginya arti pahlawan dalam konteks saat ini adalah mereka yang melakukan sesuatu yang lebih dari tugas dan tanggung jawabnya.

“Kita pahlawan jika berbuat lebihbdari tugas. Tugasnya cuma lima dia buat seratus,” tuturnya.

Nilai-nilai filosofis yang dimiliki Luwu dapat diterapkan saat ini untuk menjaga NKRI tetap utuh.

“Kalau mau negeri ini baik hadirkan kedamaian dan keadilan. Pesan-pesan tersebut hadir di filosofi kebenaran Luwu. kalau mau maju hadirkan kenyataan tersebut,” pungkasnya. (*)