Ketua PPDI Bone Bantah Pernyataan dari Keluarga Satpol PP

Senin, 29 Januari 2018 | 16:43 Wita - Editor: Irwan AR - Reporter: Junaid - Gosulsel.com

Makassar, Gosulsel.com – Sejumlah keluarga petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Bone yang saat ini berstatus tersangka penganiayaan membantah telah terjadi penganiayaan terhadap, Andi Takdir Ketua Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Bone.

Andi Risna yang juga adalah saudara Andi Baharuddin mengaku bahwa tidak ada pengeroyokan atau penganiayaan terhadap Andi Takdir di Lapangan Merdeka Watampone pada 23 Desember 2017 lalu.

Walaupun dirinya tidak berada pada saat kejadian, dia tetap yakin bahwa tidak ada panganiyaan yang di lakukan oleh satpol PP termasuk saudaran, Andi Bahruddin keterangan Andi Risna ini diambil dari satpol PP yang kini jadi tersangka.

Menurutnya, jika memang terjadi pengeroyokan pasti wajah korban babak belur atau bonyok



“Karena kalau pengeroyokan artinya kan mukanya bonyok. Padahal Andi Takdirnya tidak kenapa-kenapa. Kalau itu pengeroyokan mungkin mukanya tidak kembali normal, ” kata Risna saat menggelar konferensi pers di Warkop de Journals, Makassar, Minggu, 28 Januari 2018.

Lanjut Risna, menurut para pelaku tidak ada tendangan dan tidak ada ditamparan.

“Menurut orangnya (Satpol PP) memang menendang tapi kena telapak kaki. Kemudian yang di belakang sempat diginiin kepalanya aja, gitu aja (bukan piting kepala korban). Kalau ditarik saya tidak tahu jelas ya tidak atau apa. Tapi kalo misalnya ada tindakan kekerasan tidak ada, ” jelasnya.

Menurutnya, saat kejadian Takdir dalam posisi duduk karena itu ditunjuk-tunjuk oleh Satpol PP. Selain Takdir, ternyata ada korban lain yang dianiaya dan pengakuan Risnawati wajahnya korban lainnya bonyok.

“Kemudian anggapan orang, Andi Takdir itu bonyoknya? bukan yang bonyok itu (korban) yang satu, yang sudah damai tidak ada masalah. Katanya ini pengeyorokan. Maksudnya bukan pengeroyokan juga sih yang namanya pengamanan kan, pasti tidak turun dua orang, dia (Satpol PP) turun dua pleton (sekitar 40 orang), ” jelasnya.

Terkait anggapa bahwa Takdir dikeroyok didepan anaknya Rina juga membantah hal itu.

“Walahualam ya.. karena saya tidak tidak disana dan dari satpol PP-nya saya dengar begitu, ” ujarnya.

Selain itu, dia juga membantah hasil visum dari medis yang diserahkan ke.Polres Bone.

Saat dikonfirmasi, Takdir juga membantah pernyataan Risnawati itu. Menurutnya, ia dikeroyok dan jumlahnya memang bukan dua pleton, sebab kalau memang demikian jumlahnya maka sebanyak itulah yang mungkin akan ditangkap polisi.

“Seandainya rekaman video itu tidak terhalang oleh banyak orang (didepan orang yang merekam video), maka ada banyak orang yang tertangkap kamera yang menendang saya. Saya punya video, kalau dikasi singgah-singgah (pause) kelihatan ada yang yang menendang saya dari samping dan kelihatan juga ada yang memukul saya dari belakang. Memang harus ditonton seksama jika ingin melihat semua, ” ujarnya.

Menurutnya itulah sebabnya mengapa hanya tiga orang yang ditangkap polisi, Sebab hanya petugas Satpol PP itu yang masuk dalam rekaman video yang kini jadi bukti pengeroyokan di Polres Bone.

Menurutnya jika mau ditelesuri dengan seksama pasti banyak yang dijadikan tersangka. “Betul yang mereka bilang (Andi Risnawati) jika dua pleton yang mengeroyoknya pasti saya bonyok. Tapi seandainya saat itu tidak banyak orang dan tidak ada Satpol PP lain yang melerai saya, saya pasti bonyok. Karena banyak orang yang relai saya jadi tidak bonyok. ” kata Ketua Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Bone ini.

Dia juga membantah pernyataan Risna terkait pada saat pengoroyokan bahwa anaknya tidak tidak berada di didekatnya. Dia mengatakan menegaskan bila dalam video dan foto, anak berada didekatnya saat terjadi pemukulan.

“Jelas ada di dalam video bahwa ada anak saya. Saya bantah, bila saya memancing situasi. Saya bantah dikatakan saya mabuk dan saya juga tidak mengeluarkan kata-kata kotor yang memancing situasi. ” ujarnya dalam siaran persnya.

Diketahui Polres Bone menetapkan lima pelaku penganiayaan di Lapangan Merdeka. Namun dua diantaranya merupakan pelaku penganiayaan yang diselesaikan secara kekeluargaan.

Tiga lainnya menjadi tersangka kasus pengeroyokan Andi Takdir, yakni Andi Baharuddin (Kasi Trantibun), Andi Saharifuddin (Kasi Pengawasan Penegakan Perda), dan Andi Ahmad Aminuddin (honorer), Mereka diancam Pasal 170 ayat 2 KUHP tentang pengeroyokan dengan ancaman 7 tahun penjara. Kasus ini juga tengah bergulir di Kejaksaan Negeri Bone.(*)