Aturan Baru Bank Indonesia, Giro Wajib Minimum Pengaruhi Daya Beli Masyarakat

Minggu, 29 April 2018 | 10:51 Wita - Editor: Baharuddin - Reporter: A Nita Purnama - GoSulsel.com

Bandung, Gosulsel.com – Aturan baru yang diberlakukan Bank Indonesia terhadap Giro Wajib Minimum (GWM), menyebabkan daya beli masyarakat terpengaruh. 

Hal tersebut disampaikan Dwityapoetra S Besar selaku Direktur Bank Indonesia Sulsel dalam pemaparannya mengenai kebijakan ekonomi terkini: moneter dan makroprudensial, di Hotel Papandayan Bandung, Sabtu (28/04/2018).

“Daya beli secara tidak langsung terpengaruh,” ujarnya.

Dijelaskannya, dengan adanya perubahan pada GWM terdesebut, maka jumlah kredit akan meningkat. Kredit yang meningkat akan membuat daya beli masyarakat meningkat.

“Ada tambahan fleksibilitas 1,5% GWM nya, artinya potensi untuk kreditnya juga ada. Kalau kreditnya meningkat, daya belinya juga bisa meningkat. Secara tidak langsung, itu bisa menambah kepada daya beli,” jelasnya.

Bank yang wajib membentuk GWM di Sulsel yaitu Bank Sulselbar karena berkantor pusat di Sulsel. Dengan mengatur GWM, Bank Sulselbar memiliki fleksibilitas untuk mengatur likuiditasnya.

“Itu tentunya akan menjadi lebih baik bagi Bank Sulselbar karena dia akan punya fleksibilitas untuk mengatur likuiditasnya. Jadi yg selama ini dia fix 6,5% di simpan dalam bentuk rekening giro di BI sekarang 1,5% nya bisa digunakan oleh Bank Sulselbar untuk melakukan kegiatan lain misalnya untuk pertumbuhan kredit atau kegiatan lainnya,” paparnya. 

Diketahui, Bank Indonesia memutuskan untuk mengubah GWM Averaging Rupiah kepada bank umum konvensional 6,5% dari yang sebelumnya terbagi dalam GWM tetap 5% dan GWM rata-rata 1,5% menjadi GWM tetap 4,5% dan GWM rata-rata 2%. Aturan tersebut berlaku 16 Juli 2018.

Secara harfiah, giro wajib minimum adalah dana atau simpanan minimum yang harus dipelihara oleh bank dalam bentuk saldo rekening giro yang ditempatkan di Bank Indonesia. Besaran Giro Wajib Minimum (GWM) ditetapkan oleh bank sentral berdasarkan persentase dana pihak ketiga yang dihimpun perbankan.


BACA JUGA