TN Babul Maros Gelar Pelatihan Pengendalian Ekosistem Hutan

Jumat, 04 Mei 2018 | 13:34 Wita - Editor: Baharuddin - Reporter: Muhammad Yusuf - GoSulsel.com

Maros,GoSulsel.com – Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) Maros menggelar pelatihan peningkatan kapasitas pengendalian ekosistem hutang. Gelaran ini dilakukan di Padang Loang Desa Bentenge Kecamatan Mallawa, Maros, Jumat (4/5/2018).

Kegiatan bernuansa outdoor ini mengusung konsep “Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung Kembali ke Lapangan” atau menyatu dengan alam yang dilaksanakan full outdoor, peserta menginap di tenda, saat belajar panitia menyediakan tenda besar.

Padang Loang dipilih sebagai lokasi pelaksanaan pelatihan peningkatan kapasitas ini karena zona tradisional taman nasional ini berupa hamparan savana seluas 74 hektar yang dimanfaatkan masyarakat setempat mengembalakan sapi dan kuda secara liar.

Kepala Balai TN Bantimurung Bulusaraung, Yusak Mangetan menyampaikan, peserta pelatihan peningkatan kapasitas ini terdiri dari pejabat fungsional pengendali ekosistem hutan, polisi kehutanan, dan pegawai tidak tetap taman nasional dengan jumlah peserta tak kurang dari 30 orang.

“Dalam pelatihan ini menghadirkan narasumber dari Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin Makassar dan Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman Samarinda,” ujarnya, Jumat (4/5/2018).

Ditambahkannya, dosen dari Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin Makassar, Nasri menyampaikan materi analisis vegetasi. Sementara dosen Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman Samarinda, Rustam menyampaikan materi identifikasi satwa liar menggunakan kamera jebak atau camera trap.

“Pengalaman dosen pada laboratorium ekologi satwa liar dan keanekaragaman hayati Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman Samarinda ini menggunakan kamera jebak menyemangati peserta belajar menggunakan alat tersebut. Apalagi saat ini Balai TN Babul sudah memiliki 5 camera trap. Kita berharap setelah pelatihan ini teman-teman bisa menggunakan alat ini untuk mengidentifikasi mamalia besar yang selama ini sulit kita jumpai seperti rusa atau Cervus timorensis ataupun musang sulawesi atau Macrogalidia musschenbroekii, jika memungkinkan,” jelasnya.

Suasana belajar begitu santai di bawah tenda besar yang disediakan panitia. Peserta begitu antusias saat belajar menggunakan camera trap. Hari pertama saat sampai di lokasi, peserta langsung berkenalan dengan camera trap, belajar mengatur menu kamera kemudian memasangnya di tempat strategis di dalam hutan.

Hari kedua peserta praktek lapangan mengenal jenis pohon, praktek metode quadran dan melakukan analisi data untuk materi analisi vegetasi. Malamnya, peserta mengambil camera trap yang telah dipasang sehari sebelumnya. Membuka hasil tangkapan kamera dan mengevaluasi cara pemasangan alat. Hasil tangkapan kamera trap berupa musang tenggalung atau Viverra tangalunga dan tikus hutan.

Panitia pelaksana pelatihan peningkatan kapasitas ini diserahkan ke personil Manggala Agni Brigade Macaca, sehingga menambah meriahnya konsep pelatihan yang dilaksanakan selama tiga hari ini.

“Peserta mendapat refresh materi analisis vegetasi dan mendapat ilmu baru menggunakan camera trap. Semoga ke depan kinerja pengendali ekosistem hutan dan fungsional lainnya meningkat,” tambahnya.(*)