Lebih Dekat dengan Ichsan Yasin Limpo, Visioner dan Selalu Peduli Pendidikan (3/Bersambung)

Minggu, 27 Mei 2018 | 13:04 Wita - Editor: Irwan AR - Reporter: Baharuddin - GoSulsel.com

MAKASSAR, GOSULSEL.COM— TAK salah jika julukan tokoh peduli pendidikan disematkan ke Ichsan Yasin Limpo. Selain pelaku pertama perda pendidikan gratis di Indonesia, pasangan Andi Mudzakkar di Pilgub Sulsel ini juga adalah penggagas dan pelopor Sistem Kelas Tuntas Berkelanjutan (SKTB).

Di kepemimpinan Ichsan Yasin Limpo di Kabupaten Gowa, ia berani menerobos sistem pendidikan dasar yang jauh tertinggal bila dibandingkan dengan negara lain. Termasuk Singapura maupun Malaysia.

pt-vale-indonesia

Di awal memang banyak cibiran menghampirinya. Tidak sedikit tertawa sinis melihat “kegilaan” Ichsan Yasin Limpo menerapkan SKTB di Gowa. Banyak yang menilai, keberanian mantan Ketua FKPPI Sulsel itu akan berujung kegagalan.

Maklum, SKTB yang tidak mengenal istilah tinggal kelas di pendidikan dasar, pertama diterapkan di Indonesia. Sehingga kebijakan tersebut dinilai akan menjadi “kemunduran” bagi Gowa.

Tapi bukan Ichsan Yasin Limpo namanya jika di tengah cibiran itu lari dari tanggung jawab. Justru keraguan banyak pihak di awal, dijadikan pelecut untuk menunjukkan jika memang kebijakannya tersebut sangat tepat, dan layak diberlakukan di Indonesia.

“Membangun sumber daya manusia memang tidak bisa langsung dilihat hasilnya. Butuh proses dan waktu bertahun-tahun. Dan itu saya berusaha jalankan di Gowa,” terang Ichsan Yasin Limpo di berbagai kesempatan saat ditanya alasannya menerapkan SKTB.

Dipadukan dengan pendidikan berkualitas tanpa pungutan, SKTB di Gowa kini menunjukkan hasilnya. Terbukti selama beberapa tahun terakhir, kabupaten yang jumlah wilayahnya sekira lima kali lipat jika dibandingkan Bantaeng, tertinggi undangan bebas tes untuk masuk ke perguruan tinggi.

Begitu juga dari segi kualitas, pendidikan di Gowa juga mulai menjadi kiblat baru di Indonesia. Tidak sedikit daerah di Indonesia melakukan studi banding ke kabupaten tetangga Makassar ini. Bahkan sejumlah pakar pendidikan mengakui tentang perhatian dan kemajuan pendidikan di Gowa.

Bukan hanya itu, Anies Baswedan saat masih menjabat Menteri Pendidikan, secara khusus mengundang Ichsan Yasin Limpo untuk mendengar pemaparannya tentang SKTB dan pendidikan tanpa pungutan di Gowa.

Anies tertarik dengan SKTB yang diterapkan Gowa di bawah kepemimpinan Ichsan saat itu. Bahkan sebagai bentuk keseriusannya dengan terobosan tersebut, Anies jauh-jauh datang dari Jakarta ke Gowa, hanya untuk melanjutkan mendengar pemaparan dan penjelasan IYL tentang SKTB.

Berkat perhatian dan keberanian IYL dalam menerobos sistem pendidikan, termasuk yang pertama memberlakukan perda pendidikan gratis di Indonesia, berbagai penghargaan menghampirinya.

Tapi penghargaan tersebut tak lantas dibangga-banggakan untuk mengejar pencitraan. Karena di kamusnya, ukuran berhasil ketika rakyat menikmati hasilnya hingga berpuluh-puluh tahun. Bukan untuk sesaat.

Keseriusan ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Sulsel ini terhadap masa depan generasi muda memang bukan sekadar isapan jempol. Terbukti di tengah berbagai kesibukannya di akhir masa jabatannya sebagai bupati dua periode saat itu, ia mengambil kelas reguler untuk program doktoral di Fakultas Hukum Unhas.

Selama sekira dua tahun, bapak dari 4 anak ini fokus pada program studi hukum pendidikan. Dan semasa kuliah, ia menunjukkan keseriusannya tidak sekadar mengejar titel doktor semata.

Lebih dari itu, memanfaatkannya untuk memperdalam pengetahuannya tentang pendidikan. Itu sebabnya, saat penyusunan disertasi, ia tidak mengambil langkah yang mudah. Melainkan mengajukan penelitian di tujuh negara.

Fokusnya tentang sistem pendidikan dasar. Ia melakukan penelitian atau studi komparasi di negara yang kualitas pendidikan dasarnya terbaik di dunia. Seperti di Finlandia, maupun di Singapura.

Dari hasil penelitiannya tersebut, dituangkan di disertasinya hingga mengantarkannya sebagai pakar baru di bidang hukum pendidikan, sekaligus mendapatkan predikat cum laude atau lulusan nilai sangat sempurna saat promosi gelar doktornya.

Berkat penelitian di tujuh negara tersebut, Ichsan Yasin Limpo juga sangat yakin dengan kebijakannya menerapkan SKTB di Gowa. Sebab di sejumlah negara tersebut, memang tidak mengenal istilah tinggal kelas. Begitu juga metode belajar mengajar, kurikulum, waktu sekolah, hingga intervensi pemerintah, memang banyak yang berbeda dengan yang diterapkan di Indonesia.

Kini Ichsan Yasin Limpo maju mewakafkan diri di Pilgub Sulsel. Pengalamannya meningkatkan kualitas pendidikan di Gowa menjadi modal berharga untuk menerapkan di level lebih tinggi lagi.

Bersama Andi Mudzakkar yang maju lewat koalisi rakyat atau independen, Ichsan Yasin Limpo berkomitmen untuk untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara merata dan tanpa pungutan. Subsidi 1,5 triliun per tahun untuk SD hingga SMA diyakini bisa menjadi solusi terbaik.

Dibenaknya, memajukan dan meningkatkan kualitas pendidikan, harus ada keberanian pemimpin melakukan intervensi. Sebab jika hanya mengandalkan dana yang sekarang, diyakini sulit mengejar ketertinggalan.

Olehnya itu, jika kelak atas izin Tuhan memimpin Sulsel, maka kenaikan 100 persen bantuan ke siswa SD hingga SMA wajib direalisasikan. Dan itu harus demi masa depan anak-cucu kita. Semoga Punggawa!! (Bersambung).