Tiga Ukhti Cantik Bisnis Jilbab Modal Hobi dan Persahabatan

Sabtu, 28 Juli 2018 | 12:51 Wita - Editor: Irwan AR -

MAKASSAR,GOSULSEL.COM– Menjadi enterprenuship hanya butuh kemauan. Karena tanpa modal besar pun sebuah bisnis bisa dijalankan.

Seperti sebuah bisnis jilbab bermerek dagang Ukhit Kapak (UK) yang dijual secara online dari hasil kreasi tiga ukhti mahasiswa STIE Mappaoddang Bongaya Makassar. Mereka adalah Hapena mey Leni (Mey), Indriati ramli (Indri), dan Vince Agustia Abu (Vince).

Ketiganya sejak mahasiswa baru, sudah kompak dan menjalin persahabatan. Bahkan nama merek Kappak adalah nama geng yang diberikan oleh keponokan ibu kost tempat mereka kostan selama bermahasiswa.

“Jadi ceritanya awalnya kami berempat berhubung yang satu sudah menikah jadi secara tidak langsung dia gugur dengan sendirinya, nama Kappak dari keponakan ibu kost kami yang lihat kami begitu kompak yang makan sama-sama, masaknya sama jalannya juga suka sama-sama, dibikinlah nama geng Kappak itu. Awalnya saya sih ketawa karena kayak nama geng preman di jakarta hahaha,” tutur Vince, saat dihubungi Jumat, 27 Juli 2018.

Namun Kapak itu menurut Vince bermakna tajam dan kuat yang sangat menggambarkan hidup sebagai anak kost yang didik mandiri, tidak peduli apakah dia laki-laki atau perempuan. Nama itu pun melekat hingga kini dan menjadi hoki bagi bisnis pemula yang mereka jalankan.

“Kami awalnya semua memang punya rencana bikin bisnis kecil-kecilan yang bisa menghasilkan uang, nah muncul ide dari Mey yang sering lihat orang jualan jilbab di ig mengusulkan bisnis jilbab ini,” masih cerita Vince yang menambahkan bahwa mereka juga kompak aktif di organisasi HMI terutama Korps HMI-Wati nya.

Bermula dua tahun lalu dari sisa kain batik, ketiganya pun melakukan tes pasar. Mereka pun merencanakan dan mensikusikan desain modelnya lalu memakai jasa penjahit untuk menjahitkan model Jilbab yang mereka inginkan dan diberikanlah merek.

Rupanya respon pasar cukup menggembirakan dan mulailah mereka patungan dari uang saku masing-masing untuk membeli bahan dan melempar ke pasar hanya menggunakan sosial media. Rata-rata mereka membuat 20 piece, lalu akan menambah bila orderan yang masuk bertambah banyak.

“harganya mulai Rp25 ribu hingga Rp100 ribu, tergantung model dan bahan sih. Kalau omzet saat ini kami belum bisa menghitungnya karena sempat mandek selama fokus penyelesain studi, jadi mulai lagi tapi kalau tahun lalu lumayan lah kebutuhan sehari-hari terpenuhi lebih dari cukup,” ujar Vince ringan.(*)