Pelemahan Nilai Tukar Rupiah Antara Penguatan Dollar AS dan Turkey Effect

Senin, 13 Agustus 2018 | 22:21 Wita - Editor: Irwan AR -

Makassar, Gosulsel.com— Hari ini nilai tukar rupiah mencapai titik tertingginya dalam pelemahan mata uang Indonesia ini terhadap Dollar Amerika, yakni Rp14.600 per USD. Bank Indonesia seperti dikutip kontan.id, langsung melakukan intervensi terukur untuk menstabilkan rupiah.

Padahal menurut Dwityapoetra S. Besar, Kepala grup Advisory dan Pengembangan Ekonomi BI Perwakilan Sulsel, rupiah sempat menguat di awal juli 2018 lalu sebagai respon positif pasar atas kebijakan moneter BI yang menaikkan BI7DRR sebesar 50bps. Sempat dikeluhkan masyarakat atas bunga kredit yang tinggi, tapi mampu disiasati dengan melonggarkan uang muka.

“Gejolak rupiah tahun ini lebih banyak dipengaruhi penguatan dollar AS secara global, tekanan rupiah kembali meningkat seiring kuatnya ketidakpastian pasar keuangan global yang memicu penguatan dollar AS secara luas terhadap mata uang asing seluruh dunia, jadi bukan hanya terhadap rupiah saja,” ungkap Dwipoetra saat menjadi narasumber Editor’s Day yang digelar BI Sulsel, Senin (13/8/18).

Menurut Dwipoetra ekonomi AS diperkirakan tumbuh tinggi dengan inflasi yang semakin meningkat sementara pertumbuhan ekonomi Eropa terindikasi tidak sekuat perkiraan sebelumnya saat yang sama ekonomi Tiongkok juga belum meningkat. Akibat ketidakpastian global tersebut memicu pembalikan arus modal dari negara berkembang.



Pakar Ekonomi INDEF, Bhima Yudhistira Adhinegara, yang turut menjadi narasumber dalam Editor’s Day, mengungkapkan, pelemahan rupiah dibandingkan dengan mata uang asing lainnya sebenarnya masih lebih mending. Dibandingkan dengan Brazil, Turki dan Argentina.

“Sebenarnya kalau mau melihat nilai tukar itu, harus dilihat nilai tukar secara global terhadap dollar AS, sekarang ini yang jadi perhatian dunia adalah jebolnya Lira Turki, apalagi bank sentral negara ini sangat gampang dintervensi pemerintahnya dan juga menteri Keuangannya adalah anak Erdogan sendiri ini kekeliruan yang parah,” jelas Bhima.

Tambahnya lagi, fenomena negara Turki ini juga memberi dampak kepada rupiah. Buktinya, Turkey Effect menyeret rupiah ke titik terlemahnya terhadap Dollar tahun ini hingga Rp14.600 per Dollar AS.

Penyebabnya, investor global fokus dengan kondisi ekonomi di Turki seiring dengan meningkatnya kontrol ekonomi dari Presiden Erdogan dan memburuknya hubungannya dengan Amerika Serikat.

Nilai tukar lira Turki mencatatkan depresiasi tajam. Efek Turki ini dikawatirkan membuat mata uang dolar AS menguat dan sebaliknya melemahkan yang lain, termasuk rupiah.

Disisi lain BI mencatat defisit neraca transaksi berjalan pada triwulan II-2018 mencapai delapan miliar dolar AS atau tiga persen terhadap produk domestik bruto (PDB), lebih tinggi dari triwulan sebelumnya sebesar 5,7 miliar dolar AS atau 2,2 persen terhadap PDB.

“Apa yang sudah dilakukan saat ini untuk mengintervensi agar rupiah stabil saya kira sudah baik namun masih bisa lebih optimal,” tutup Bhima.(*)