Arief Wicaksono
#

Pileg 2019 Didominasi Wajah Lama, Bukti Kegagalan Kaderisasi Parpol

Rabu, 15 Agustus 2018 | 21:59 Wita - Editor: Andi Nita Purnama - Reporter: Muhammad Fardi - GoSulsel.com

Makassar, GoSulsel.com — Pemilihan Legislatif (Pileg) tahun 2019 didominasi wajah lama. Baik itu Calon Legislatif (Caleg) incumbent maupun Caleg yang gagal pada Pilkada 2018 dan Pileg 2019, serta politisi senior yang pindah ke partai lain.

Kondisi ini dinilai karena Parpol tidak serius mempersiapkan kader. Akibatnya, tidak ada pilihan bagi Parpol untuk menghadirkan Caleg yang bervariasi. Bahkan, sebagian Parpol merekrut Bacaleg yang memiliki modal kuat menopang suara, tanpa memperhatikan kemampuan untuk mewakili rakyat di parlemen.

Hal ini dibenarkan oleh pakar politik dari Universitas Bosowa (Unibos) Makassar, Arief Wicaksono. Menurutnya, salah satu alasan masih banyaknya wajah lama pada Pileg mendatang lantaran pola recruitmen yang kurang baik. Sehingga hal itulah memaksakan Parpol menjadikan satu dari beberapa alasan masih menempatkan para pemain lama.

“Wajah-wajah lama memang masih mendominasi dunia percalegan dalam event pileg 2019. Sebabnya ada banyak sebenarnya, tapi saya sepakat dengan pendapat yang menyatakan bahwa jeleknya pola rekrutmen kader pada partai politik-lah yang menjadi sebab utama,” kata Arief, Rabu (15/8/2018).



Dia menilai, Parpol saat ini dibangun bukan berlandaskan pada kedewaan politik di masyarakat. Namun lebih kepada kepentingan politik untuk mendapatkan kedudukan setinggi mungkin dimata masyatakat. 

“Bukan soal serius atau tidak serius dari parpol untuk merekrut kader yang bagus dan banyak, tapi lebih kepada soal kepedulian parpol sebagai satu pilar terpenting dari Demokrasi, terhadap perkembangan dan kedewasaan perikehidupan politik masyarakat,” jelasnya.

Bukan menjadi rahasial lagi, lanjutnya parpol akan memperlihatkan kepeduliannya di masyarakat ketika ada kepentingan politik. Hal inilah, kata Arief yang mesti dirubah agar kepercayaan masyarakat terhadap parpol kembali terbangun.

“Saat ini, parpol seperti meninggalkan masyarakat ketika selesai pemilihan, nanti jelang pemilihan berikutnya, baru datang lagi. Ini kan sikap yang membuat orang-orang tidak percaya pada parpol, selama ini? Artinya, memang parpol yang harus berinisiatif memperbaiki keadaan ini,” tandasnya. 

Dikonfirmasi terpisah, Ketua DPW PPP Sulsel, HM. Aras yang dikonfirmasi menepis hal itu. Dia menegaskan, PPP Sulsel dalam menyusun komposisi caleg berdasarkan pada pertimbangan yang matang. Dalam menyusun komposisi Bacaleg, PPP mempersiapkan kader yang potensial.

“Sebenarnya kami tidak mengalami hal demikian karena terbukti kemarin pada saat kami menyusun caleg yang ada di Sulawesi selatan kan pengurus kami sekitar 200 an. Dan alhamdulillah hari ini caleg-caleg provinsi semua terpenuhi,” kata Aras.

Meski begitu, dia mengaku, yang banyak disoroti adalah caleg-caleg perempuan yang didorong hanya untuk melengkapi kuota 30 persen. Namun bagi PPP, caleg-caleg perempuannya yang dipilih berdasarkan seleksi dan kaderisasi yang ketat. Sehingga bukan asal mendorong nama caleg saja.

“Kaderisasi di sulsel ada wanita persatuan pembangunan telah menyusun kepengurusan hingga tingkat kabupaten. Sehingga caleg perempuan tidak terlalu sulit bagi PPP. Sehingga kaderisasi sangat terlihat, bahwa bukan cuma caleg lama yang bercokol tapi banyak caleg baru juga yang di rekrut juga bercokol sebagai andalan PPP,” terangnya.

Perihal wajah lama dalam pileg, Aras mengaku PPP dalam mendorong caleg berdasarkan pada kompetensi yang dimiliki. Sehingga tentunya bagi caleg yang sudah pernah bertarung sebelumnya setidaknya punya pengalaman yang baik. 

“Tidak mungkin kita dorong kalau mereka tidak punya semangat untuk menang. Sehingga pengalaman yang lalu mungkin pada saat itu mereka tidak serius karena merasa mereka tidak mampu bersaing atau keterbatas finansial yang mereka miliki,” terang Aras.

“Tapi kali ini mereka mungkin lebih siap untuk itu, bisa saja mereka bisa mengalahkan caleg incumbent karena saya lihat saat ini kekuatan PPP merata,” tandasnya.(*)