Pakai Teknologi Modern, CPI Dijamin Tahan Gempa dan Likuifaksi

Selasa, 23 Oktober 2018 | 21:41 Wita - Editor: Andi Nita Purnama - Reporter: Mirsan - Go Cakrawala

Makassar, GoSulsel.com — Pengembang Centre Point of Indonesia (CPI), Grup Ciputra menjamin kawasan seluas 157 hektare ini tahan gempa dan likuifaksi. Berbagai teknologi reklamasi dan pembangunan infrastruktur serta gedung diterapkan sebagai langkah mitigasi. 

Grup Ciputra bersama kontraktor PT Boskalis Indonesia dan konsultan Witteveen+Bos Indonesia (WBI) dalam pembangunan kawasan CPI bahkan menerapkan standar internasional sebagai bukti jaminan kepada calon pelanggannya. 

pt-vale-indonesia

General Manager CitraLand City Losari Makassar City, Hendra Wahyuadi mengatakan sejak awal pihaknya telah melakukan mitigasi bencana sebelum proses reklamasi. Salah satu mitigasi yang dilakukan adalah melakukan penelitian tanah, merencanakan konsolidasi tanah dan menetapkan desain.

“Desain untuk area reklamasi bertujuan mengurangi dampak dari gempa dan likuifaksi yang mungkin terjadi dengan standar nasional dan internasional. PT Boskalis dan WBI adalah kontraktor dan konsultan berpengalaman dan reputasi internasional,” katanya saat forum diskusi di Swiss-belhotel, Selasa (23/10/2018).

Seperti diketahui proyek seluas 157 hetar ini sudah selesai 100 persen untuk tahap pertama. Untuk proses pemadatan tanah dengan teknologi reklamasi termodern sudah mencapai 98 persen.  Untuk mencapai kepadatan yang sesuai, pengawasan secara ketat dilakukan oleh WBI.

Ada beberapa teknologi yang dipakai PT Boskalis untuk pemadatan tanah. Mulai dari Prefabricated Vertical Drain (PVD) dengan cara memasukkan material geotextie dalam tanah untuk mengeluarkan air.

“Cara kedua dengan Vibro Compaction atau Floatation. Pemadatan dengan menyuntikkan besi panjang yang digetarkan dengan bantuan air dengan tekanan yang sangat kencang. Pemadatan pasir timbunan dengan kedalaman efektif lebih dari 6 meter,” jelasnya.

Teknologi ketiga Cofra Dinamic Compaction, yaitu pemdatan lapisan atas dengan menggunakan alat menyerupai palu. Teknologi lainnya yaitu High Energy Impact Compaction dengan menggunakan roller berbentuk semanggi.

Konsultan WBI, Bony Yogatama menyebutkan untuk mitigasi gempa, perencanaan infrastruktur dan bangunan Grup Ciputra sudah mengacu pada aturan SNI 1726 tahun 2012 yang dikeluarkan oleh Badan Standarisasi Nasional (BSN).

“Aturan ini untuk perencanaan bangunan tahan gempa dimana standarisasi ini telah disesuaikan dengan peta zonasi gempa terbaru yang duterbitkan oleh kementerian PUPR,” ungkap Bony.

Tak cukup dengan perencanaan, Grup Ciputra juga melakukan pengawasan pembangunan infrastruktur dan bangunan gedung secara ketat. Hal ini dilakukan di seluruh proyek yang dibangun oleh Grup Ciputra.(*)