dr. Nurhira Abdul Kadir

Membincang Dua Jenis Genangan di Musim Hujan

Jumat, 28 Desember 2018 | 02:10 Wita - Editor: Irwan Idris -

GOSULSEL.COM — Musim hujan adalah musim yang dirindukan sekaligus perlu diwaspadai. Kita menemukan beberapa kawan baru dalam musim hujan, misalnya sesama teman berteduh saat meminggirkan kendaraan menghindari hujan. Tetapi dalam musim yang sama, tak jarang, boleh jadi kehilangan teman atau orang yang tercinta. Kehilangan ini bisa karena kecelakaan lalu lintas, sebab hujan rawan memicu kemalangan di jalan raya. Kepergian mereka mungkin juga karena penyakit yang dominan terjadi di musim hujan.

Banyak yang perlu diwaspadai selama musim hujan agar kita tetap sehat. Di antaranya adalah genangan. Saya ingin membagi dua jenis genangan: genangan “jernih” dan genangan “keruh”. Ini  sekadar istilah saja, untuk memudahkan menjelaskan bagaimana kedua jenis genangan ini menjadi media tumbuh penyakit yang berbeda.

1.Genangan “jernih“

Genangan “jernih” bukan berarti genangan bersih atau bebas penyakit. Saya sebut genangan jernih sebab genangan jenis ini cenderung terlihat lebih transparan. Contohnya genangan yang terperangkap dalam ceruk lantai, atau dalam gelas plastik yang dibuang serampangan di pinggir jalan.



Genangan semacam ini disukai nyamuk Aedes, sang pembawa demam berdarah dan chikungunya. Jentik nyamuk jenis ini tidak suka berkembang di air kotor dan keruh. Ia menyukai air yang tampak jernih dan menggenang. Contohnya air kolam atau bak yang jarang dikuras, penampungan air yang tidak tertutup, dan genangan air di lantai kamar mandi. Ada juga yang hidup di tempat tak terduga seperti dalam air hujan yang terperangkap dalam ban bekas, pot bunga, atau di ketiak pohon.

Hanya perlu waktu kurang dari 10 hari untuk telur Aedes berubah menjadi nyamuk dewasa. Pemerintah pernah menggiatkan gerakan 3M: menguras dan menutup (bak/ penampung air),  serta mengubur barang yang potensil menampung air. Rupanya, perlu ditambah lagi agar menjadi 4M yaitu menggosok. Menggosok memastikan agar telur tidak tertinggal di dinding penampung air. Hasil penelitian menunjukkan telur Aedes dapat bertahan hidup hingga setahun dalam kondisi kering. Ini menyebabkan mereka bisa memulai siklus hidup baru pada musim hujan berikutnya.

2.Genangan Keruh

Pada musim kemarau, kotoran dan kencing tikus, kecoak, kucing, anjing mungkin terkonsentrasi di tempat tertentu seperti di sudut yang tersembunyi, di got, atau di ceruk-ceruk gedung. Pada musim hujan, luapan air dapat mengangkat berbagai jenis kotoran dari lokasi tersebut dan menyebarnya ke mana-mana. Terlebih jika terjadi banjir.  Bahkan air selokan yang pekat dan bau dapat memenuhi jalan.

Daftar penyakit yang dapat disebarkan oleh genangan tercemar ini cukup banyak. Contoh misalnya penyakit kulit seperti gatal dan bisul juga bisa terpicu. Belum lagi typhus atau penyakit infeksi saluran cerna lain yang menyebabkan diare dan muntah. Ini mungkin terjadi karena bahan makanan tercemar percikan dari genangan, atau pengolahan makanan yang kurang bersih.

Penyakit lainnya adalah Leptopspirosis atau penyakit Weil. Terjadinya adalah saat seseorang dengan kulit yang terluka terpapar oleh genangan yang tercemar kuman leptospira dari urin tikus, kucing, atau anjing. Untuk masuk ke tubuh, luka di kulit tak harus besar. Garukan pada kaki yang gatal misalnya, dapat menimbulkan kerusakan kulit walau tak terlihat jelas. Saat kaki dengan luka garukan ini menyentuh genangan yang tercemar leptospira, infeksi bisa terjadi.

Terkait genangan air kotor, beberapa hal perlu dipastikan. Pastikan rajin mencuci tangan, pastikan mencuci kaki setelah terpapar hujan.  Rawat luka di kulit hingga sembuh. Pastikan alas kaki cukup melindungi dari genangan. Sebaiknya hindari jajan, makanan dari rumah sendiri biasanya lebih mudah menjamin kebersihannya.(*)

Penulis: Nurhira Abdul Kadir

Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Alauddin Makassar/mahasiswa program doctor di School of Health and Society, the University of Wollongong, Australia.