Abi Rafdi Syarif, pemilik usaha Piscok Super

Abi Rafdi Syarif, Pemilik Piscok Super Beromzet Ratusan Juta

Jumat, 11 Januari 2019 | 22:30 Wita - Editor: Andi Nita Purnama - Reporter: Mutmainnah - Gosulsel.com

MAKASSAR, GOSULSEL.COM — Orang bilang, tanah kita tanah surga. Tongkah kayu dan batu jadi tanaman. Sepintas, potongan lirik dari lagu Kolam Susu tersebut menjadi penjelas betapa kaya nya alam Indonesia. Tak ayal, kekayaan sumber daya alam menghantarkan Indonesia pada keanekaragaman tumbuhan dan buah yang bersumber dari tanah suburnya.

Salah satu dari jutaan aneka hasil bumi yang cukup terkenal serta diminati semua kalangan, lintas budaya hingga ragam generasi adalah pisang. Saking populernya, hampir di tiap wilayah bisa tumbuh buah satu ini.

Jawa menjadi wilayah produsen pisang terbesar di Indonesia. Namun di Sulawesi Selatan, pisang bahkan menjadi bagian dari hidup masyarakatnya. Bagaimana tidak, nyaris di setiap perayaan, olahan pisang selalu disajikan. Dari pernikahan, kelahiran dan syukuran. Itulah mengapa, makanan khas Sulawesi Selatan selalu berbau pisang.

Makanya, jangan heran jika kuliner dengan bahan dasar pisang di Sulawesi Selatan termasuk Makassar itu bejibun. Sebut saja Barongko, Kambeng-kambeng, Pisang Epe’ dan Pallu Butung.



Deretan kuliner pisang tersebut terkategori sebagai olahan tradisional yang bisa saja tergerus oleh zaman. Bisa saja di masa depan masakan tradisional jika tak berinovasi akan tergantikan dengan kuliner bercita rasa modern. Terlebih era sekarang, dimana citarasa global menjadi pertimbangan.

Dasar inilah yang membuat Abi Rafdi Syarif pemilik usaha Piscok Super untuk mengolah pisang Sulsel menjadi naik tingkat melalui inovasi 30 varian rasa premiumnya.

Abi Rafdi Syarif

Pisang yang dikenal selama ini masih kaku dalam proses pengolahannya, dipadukan dengan rasa modern sehingga bisa dinikmati semua kalangan bahkan lidah internasional.

“Awalnya piscok ini makanan khas dari keluarga saya terus seiring berjalan nya waktu. Saya berpikir wah kayak boleh nih dipasarkan. Dan pada saat itu saya langsung berpikir, bagaimana cara supaya piscok ini bisa diterima di masyarakat sehingga saya buat berbagai macam varian,” kata Abi kepada Gosulsel.com.

Bermodal pelajaran bisnis dari keluarga yang mayoritas pebisnis, Abi mendirikan Piscok Super dengan dana Rp500.000 dan menjual 30 porsi pisang coklat lewat pemasaran di dunia maya.

“Kalau aya manfaatin era digital. Saya pasarkan lewat Instagram, Facebook, dan lain-lain,” kata Abi.

Setelah berdiri selama 2 tahun, usaha Piscok Super menjelma menjadi usaha inovasi pisang coklat pertama di Makassar dengan omset mencapai Rp150.000.000 setiap bulan di dua cabangnya yaitu Jalan Masjid Raya dan Jalan Hertasning.

Lelaki kelahiran 1997 tersebut pun telah banyak dijadikan narasumber tentang bisnis di sejumlah universitas di Sulsel.

Kerjasama Piscok Super dengan Grab juga melahirkan penghargaan merchant terlaris dan mendapat reward 75.000 orderan.

Kini, tantangan terbesar yang dihadapi Abi dalam dunia bisnis kuliner pisang coklat adalah mulai bermunculannya kompetitor walau ini juga merupakan salah satu bentuk meningkatnya usaha lokal.

“Selain itu, saya juga mau memotivasi buat teman-teman muda untuk berkarya,” harap Abi.

Di era digital, memang istilah ‘Muda Berbahaya’ semakin terlihat pada generasi tanah air termasuk Sulsel. Menjadi ujung tombak perubahan ke yang lebih baik tak hanya nyaman dengan kondisi pribadi.(*)