Aksi Umat Islam mengutuk keras penindasan Muslim Uighur di Provinsi Xinjiang, Republik Rakyat China (RRC).
#

Strategi Raup Dukungan Pemilih Muslim Dianggap Pencitraan Semu

Jumat, 11 Januari 2019 | 23:33 Wita - Editor: Andi Nita Purnama - Reporter: Mutmainnah - Gosulsel.com

MAKASSAR, GOSULSEL.COM — Aksi jutaan kaum Muslim lewat aksi bela Islam berturut-turut dari tahun 2016 hingga 2018, tampaknya jadi pemikiran tersendiri bagi kandidat untuk kepentingan pilpres.

Diketahui, beberapa isu sebagai bentuk mendekati pemilih Muslim pun cukup menjadi sorotan. Mulai dari isu menjadi imam salat hingga tes baca Quran tercetus dari kedua kubu calon presiden beserta wakilnya. 

Namun fenomena ini justru sejak dulu bukanlah hal aneh menurut Nasaruddin Linggi Allo. Terlebih massa Muslim yang dikenal sekitar 85 % penduduk negeri khatulistiwa. Bahkan Sekretaris Jendral (Sekjen) Aliansi Umat Islam Sulawesi Selatan (Sulsel) tersebut menyebut suara Muslim memang selalu memberi daya tarik menggoda bagi peserta pemilu. 

“Bukan hal yang aneh lagi. Saat jelang pemilu tiba, secara umum para politisi partai peserta pemilu ramai rebutan suara umat Islam, karena memang suara umat Islam itu “seksi”,” sebut Nasaruddin saat ditanya Gosulsel.com.



Sekretaris Jendral (Sekjen) Aliansi Umat Islam Sulawesi Selatan (Sulsel), Nasaruddin Linggi Allo

Ia berpendapat bahwa menjadikan Ma’ruf Amin sebagai wakil Jokowi dalam pertarungan politik pilpres merupakan sebuah strategi mengambil hati kaum Muslim Indonesia.

“Lihat saja peserta pilpres 2019 Sang Petahana yang saat ini dipandang tak didukung pemilih Muslim jadilah ia merapat erat kepada ulama, bahkan menggaet orang yang disebut ulama menjadi wakilnya. Akhirnya sebagian tokoh Islam pun menjadi berbalik arah kepadanya. Yang kontra menjadi bermanis muka mendukungnya,” papar Nasaruddin.

Fenomena ini seharusnya dimanfaatkan sebagai ajang kesadaran kaum Muslim untuk merapatkan barisan perjuangan Islam untuk menyelamatkan Indonesia.

“Melihat ini, bagi saya sebagai bagian dari tubuh umat, mestinya jadi modal penting dalam perjuangan. Kita harus memahami betul bahwa suara umatlah yang jelas akan menentukan arah perpolitikan di negeri ini,” tambah Nasaruddin.

Lebih lanjut, Nasaruddin menyarankan kewaspadaan umat Islam terhadap pola pencitraan saat masuk tahun politik benar-benar harus ditingkatkan agar tidak mudah dijebak dan terjebak dengan hanya dimanfaatkan suaranya dalam Pemilihan Umum (Pemilu) semata.

“Umat pun seharusnya memiliki rasa waspada dengan pola yang selalu sama tiap kali pemilu tiba. Umat Islam hanya didekap erat semata-mata untuk mendulang suaranya,” jelasnya.

Pemerhati masalah sosial Sulsel tersebut juga memaparkan persfektifnya mengenai berbagai taktik cantik yang telah dipasang mulus oleh peserta pemilu. 

“Pencitraan digencarkan lagi-lagi untuk menarik hati umat. Seperti saat ini, agama kembali menjadi isu ‘seksi’ untuk bahan kampanye dan pencitraan. Ada yang menjadi imam salat, sampai pada wacana tes baca Quran,” urai Nasaruddin.

Ia pun berharap agar umat Islam cerdas dalam melihat situasi serta tidak ikut andil dan dimanfaatkan dalam drama politik yang terjadi.

“Umat harus cerdas melihat fenomena ini sehingga umat tahu mana yang sebenarnya berpihak pada Islam dan ulama serta mana yang hanya sekedar berdrama ria,” harap Nasaruddin.

“Umat harus mampu menganalisis dengan teliti, manakah sosok pemimpin yang tulus ikhlas memperjuangkan syariat Islam untuk mencapai maslahat umat,” tambahnya.

Di akhir Nasaruddin menyampaikan kembali keresahannya terhadap umat Muslim yang terus tertimpa kejadian 5 tahun-an yang hanya diposisikan sebagai pendobrak suara.

“Setiap pemilu tiba, umat hanya didekati untuk mendulang suara sehingga faktanya umat hanya dibuat bagai pendorong mobil mogok. Saat mobil jalan kembali umat siap ditinggal pergi,” resah Nasaruddin.(*)