Bersosial Media yang Sehat, Begini Tips Pakar Psikologi Unhas

Minggu, 13 Januari 2019 | 12:47 Wita - Editor: Irwan AR - Reporter: Mutmainnah - Gosulsel.com

MAKASSAR, GOSULSEL– Banjirnya informasi di media sosial ataupun di media platform lainnya, kadang kala membuat kebingungan sebagian orang. Terpengaruh dengan informasi kebohongan hingga menimbulkan tindakan tidak bijak dan jahat adalah akibat paling parah yang bisa didapatkan. Lalu, bagaimana sebenarnya tips bermedia sosial hingga tidak merusak Kita secara Psikologis?

Gosulsel.com mendiskusikan hal tersebut dengan Dosen Psikologi Universitas Hasanuddin (Unhas), Dr. Tamar, M.Psi. Ia mencium adanya kecenderungan tidak rasional bagi pengguna media sosial sehingga menjadikan seseorang tidak jernih dalam melihat permasalahan.

Dr. Tamar, M.Psi

“Soal media sosial masalahnya adalah sifatnya yang massif dan infiltratif. Ada kecendrungan orang di media sosial itu tidak rasional, sehingga akal sehatnya kurang jernih dalam melihat persoalan,” analisa Tamar.

Ini tips dari Dr. Tamar, M.Psi., untuk pengguna dan penikmat media sosial :



1. Sikap terhadap media sosial seyogyanya berjarak
Artinya, informasi apa pun dari sosial media harus kita kritisi secara obyektif sesuai dengan akal sehat kita sendiri.

2. Pahami tujuan yang ingin kita dapatkan dalam bersosial media
Ada, sosial media seyogyanya memiliki pengaruh terhadap perkembangan diri, karir, sosial, keluarga, dan sebagainya. Sekiranya tidak berdampak buat apa kita buang-buang waktu untuk yang tidak penting bagi diri Kita.

3. Anda merasa sejahtera dalam bermedia sosial
Artinya, Anda bisa menikmati hidup bahagia tanpa melupakan kewajiban yang lainnya.

Tamar mengingatkan betapa pentingnya menggunakan tips tersebut bukan hanya agar terhindar dari stres secara psikologis serta agar bijak dalam memanfaatkan informasi namun juga bisa menghalangi hoax mempengaruhi perilaku.

Karena persoalan Hoax, sebenarnya menurut Tamar adalah anak kandung dari media sosial. Artinya hoax ini bermunculan bersamaan dengan maraknya media sosial. Hal ini terjadi karena bagaimanapun tabiat manusia selalu menjadi acuan perkembangan teknologi apa pun.

“Sifat-sifat jahat manusia bisa berkembang juga melalui media sosial, karena sifatnya yang massif dan infiltratif itulah dimanfaatkan dalam bidang marketing, iklan, politik, mafia, intelejen, dan sebagainya,” pungkas Tamar.