Dr. Tamar

Koleksi Barang Branded, Pencitraan Status Sosial atau Tameng Kekurangan Diri?

Rabu, 16 Januari 2019 | 08:43 Wita - Editor: Irwan AR - Reporter: Mutmainnah - Gosulsel.com

MAKASSAR, GOSULSEL.COM — Hidup manusia dipenuhi dengan aktivitas memenuhi kebutuhan setiap harinya. Mencari nafkah untuk memenuhinya pun dilakoni. Semua ditempuh agar nyawa tetap dalam badan. Hidup pun akan tetap hidup.

Dalam diri manusia, tak hanya kebutuhan yang mendesak untuk dipenuhi. Naluri juga ikut beradu meminta asupan pemenuhan dari pemilik tiap-tiap raga.

Sadar atau tidak sadar, tiap individu punya dua indikasi tersebut dalam proses kehidupannya. Dua hal ini akrab dengan sebutan kebutuhan dan keinginan.

Setiap orang menyadari bahwa jika kebutuhan tidak terpenuhi, maka kematian akan menimpa. Namun sebaliknya terjadi pada keinginan. Hanya gelisah yang tersisa jika keinginan tidak terpuaskan.



Bagi insan yang telah mampu memenuhi kebutuhannya dengan sempurna berupa makan dan minum serta beragam aktivitas normal semua manusia, tempuhan terpenuhinya keinginan menjadi langkah lanjut. Orang seperti ini dikenal masyarakat sebagai Orang Kaya.

Orang kaya dengan limpahan uang, sangat mahsyur dengan kisah koleksi barang bermerek yang dimilikinya. Hal tersebut pun bagi pengamat Psikologi Universitas Hasanuddin (Unhas), Dr. Tamar, M.Psi, wajar dilakukan.

“Sebenarnya mengoleksi barang kesukaan ‘branded’ bagi orang berduit selama tidak berlebih-lebihan masih kategori perilaku wajar,” kata Dr. Tamar kepada Gosulsel.com.

Perilaku tersebut menurut Dr. Tamar bisa terkategori masalah jika telah sampai tahap impulsif, yakni susah untuk dikendalikan. Padahal barang yang dibeli bukanlah kebutuhan.

“Yang menjadi masalah ketika hal itu menjadi perilaku impulsif (belanja tanpa kendali) sehingga tidak bisa mengontrol perilakunya dalam mengoleksi barang barang ‘branded’ yang belum tentu dibutuhkan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Dr. Tamar menguraikan bahwa orang yang biasanya cenderung memiliki self efficacy rendah lebih mudah terpapar perilaku impulsif buying selama memilki kecukupan daya beli.

Inilah awal dimana orang yang kelebihan harta berpotensi menutupi kekurangannya lewat barang branded yang dimiliki.

“Dengan demikian orang-orang berduit bila kontrol dirinya lemah, cenderung menjadikan duitnya sebagai tameng untuk melindungi kekurangannya termasuk di dalamnya perilaku belanja barang-barang branded, dan sebagainya,” tambah Dr. Tamar.
Attachments area