Gubernur Sulawesi Selatan HM Nurdin Abdullah (NA) melakukan pelepasan ekspor ikan terbang ke Jepang yang dilaksanakan di PT. Usaha Central Jaya Sakti, Jalan Kima 5 Kav. E No. 3A, Makasar, Sabtu pagi (19/1/2019)

Gubernur Sulsel Lepas Ekspor Ikan Terbang ke Jepang

Sabtu, 19 Januari 2019 | 20:22 Wita - Editor: Andi Nita Purnama - Reporter: Mirsan - Go Cakrawala

MAKASSAR, GOSULSEL.COM — Gubernur Sulawesi Selatan HM Nurdin Abdullah (NA) secara resmi melakukan pelepasan ekspor ikan terbang ke Jepang. Sebanyak 48 ton untuk dikonsumsi oleh masyarakat Jepang. Ekspor ini dilaksanakan di PT. Usaha Central Jaya Sakti, Jalan Kima 5 Kav. E No. 3A, Makasar, Sabtu pagi (19/1/2019).

“Yang pasti saya hadir, tentu memberikan semangat kepada direksi semua, mudah-mudahan ekspor sekarang ini bisa ditingkatan lagi dari hari ke hari. Sehingga kebutuhan bahan baku untuk ekspor semakin meningkat, ini tantangan terberat kita kedepannya pak Kadis,” kata HM Nurdin Abdullah.

Pada kesempatan ini juga hadir Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulsel Sulkaf S. Latiet.

Olehnya itu, mantan Bupati Bantaeng dua periode itu menyampaikan, bagaimana masyarakat nelayan bisa menguasai cara penangkapan ikan yang terbaru.



“Kelemahan kita Pak Kadis, kita belum menguasai teknik penangkapan, itu jadi masih sangat tradisional, makanya kita belum mampu bikin kontrak yang pasti, karena kita tidak tahu berapa yang bisa terkumpul,” ungkapnya.

Makanya, Nurdin Abdullah mengaku, kemarin kedatangan pihak dari Jepang, ingin melakukan alih teknologi, terutama dalam pengembangan budidaya perikanan. 

Jika budidaya dapat dilakukan, maka ekspor bisa diatur. Teken kontrak dapat dilakukan karena pihak luar ingin kepastian.

“Padahal sekarang semua sudah dengan teknologi, mungkin ini menjadi tantangan kita ke depan, bagaimana kita mencoba untuk meningkatkan kemampuan para nelayan kita. Kita bekali dengan alat tangkap yang lebih bagus, supaya industri ini secara kontinyu bisa menghasilkan bahan baku yang cukup,” tambahnya.

NA menyampaikan, penekanan bahwa untuk ikan terbang ini, belum mampu kita naikan harganya dengan baik, sehingga nelayan masih malas untuk mencari. Demikian juga dengan singkong. Singkong harganya sangat murah, waktu panen juga membutuhkan waktu satu tahun.

“Mungkin inovasi teknologi ini harus kita sentuh,” pungkasnya.(*)