Proses pembuatan kerajinan bambu di Desa Bontomattiro Takalar

Mengintip Proses Pembuatan Kurungan Ayam “Songkokang” di Desa Bontomattiro Galesong

Kamis, 31 Januari 2019 | 22:47 Wita - Editor: Irwan Idris -

TAKALAR, GOSULSEL.COM — Desa Bontomattiro, Kecamatan Galesong Selatan begitu akrab dengan kerajinan bambu, berbagai jenis kerajinan bambu akan dijumpai jika berkunjung ke desa tersebut.

Pekerjaan pengrajin bambu jadi mata pencaharian utama sebagian warga Desa Bontomattiro. Dengan tangan cekatan, mereka menyulam dan merangkai aneka kerajinan yang kerap digunakan untuk berbagai macam kebutuhan masyarakat, baik di pedesaan maupun di perkotaan.

Gosulsel.com berkesempatan berkunjung ke desa yang dikelilingi hamparan sawah nan hijau tersebut, Kamis (31/1/2019). Bebeberapa jenis hasil kerajinan bambu yang bisa dijumpai seperti Kurungan Ayam (Songkokang) dan penghalang cahaya (Kalakka).

Kurungan ayam atau songkokang dari Desa Bontomattiro

Songkokang banyak dipesan oleh masyarakat dari desa sekitar, maupun distributor yang akan menjualnya di daerah perkotaan. Harganya sangat terjangkau mulai Rp30.000 sampai Rp 100.000.



Salah satu warga pengrajin bambu, Alimuddin mengatakan bahwa cara memproduksinya cukup mudah sehingga dalam sehari dapat memproduksi 3-4 buah Songkokang. Soal harganya ditawarkan bervariasi, bergantung ukuran yang diinginkan oleh pembeli.

“Ya kalau besar namaui berarti mahal-mahal juga bisa sampai Rp100.000, tapi kalau kecil-kecil itu harganya cuma Rp30.000. Perhari itu kalau tidak banyakji kerjaan biasanya kudapat 3-4 buah,” tutur Alimuddin.

Produk kerajinan Kalakka di Desa Bontomattiro

Sedangkan Kalakka atau penghalang cahaya sering digunakan masyarakat desa sebagai penghalang sinar matahari agar tidak mengganggu aktivitas. Tingkat permintaan Kalakka lebih besar, bahkan diekspor ke luar negeri. Harganya bervariasi mulai Rp75.000 sampai Rp150.000.

Warga yang memproduksi Kalakka dengan bentuk yang bervariasi. Ada yang mewarnainya dengan cat, ada pula yang bermotif lukisan untuk memperindah tampilan Kalakka.

Menurut Dg Pawa’, salah satu warga yang memproduksi kerajinan tersebut, proses pembuatan Kalakka lumayan lama karena butuh proses yang panjang mulai dari memotong bambu sampai mengayammnya ke dalam bentuk jadi dengan menggunakan tali.

“Dipotong-potong dulu bambunya baru dipisahkan tipis-tipis terus dihilangkan bulu-bulunya baru jalin satu persatu. Baru kalau sudahmi baru dicat. Tapi ini (Kalakka lukis) lebih banyak orang yang mau jadi biar susah tetap dibikin karena banyak orang yang mau,” terang Dg. Pawa.(*)

 

Reporter: Dila/Gosulsel.com