Aparat gabungan TNI-POLRI berusaha menghalau aksi anarkis warga pada "Simulasi Objek Vital dalam Rangka Pengamanan Pemilu Legislatif dan Presiden 2019" di pelataran Pasar Sentral, Makassar, Kamis (31/1/2019)
#

TNI-Polri Chaos dengan Massa Aksi Dalam Simulasi Pengamanan Pemilu

Kamis, 31 Januari 2019 | 17:56 Wita - Editor: Irwan AR - Reporter: Jusrianto - Go Cakrawala

MAKASSAR, GOSULSEL.COM – Sebanyak 520 Personel gabungan TNI-Polri menggelar simulasi pengamanan menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) pada 17 April 2019 mendatang.

Dalam simulasi pengamanan tersebut, ada tiga lokasi yang digunakan yaitu di Depan Gedung Telkom, Pasar Sentral dan Lapangan Karebosi Makassar.

Dalam simulasi tersebut, terlihat TNI-Polri terlibat chaos dengan massa aksi yang sedang melakukan aksi unjuk rasa. Bahkan, tembakan peringatan juga terjadi di lokasi tersebut.



Ass Ops XIV Hasanuddin, Kolonel Inf Josep Tanada Sidabutar mengatakan, Simulasi tersebut dalam rangka menghadapi pemilu April mendatang.

“Kita dari TNI dan Polri melaksanakan latihan simulasi pengaman. Dengan ini, kita bisa menentukan tempat strategis yang akan kemungkinan terjadi kerusuhan ataupun demonstrasi,” ungkapnya saat ditemui di lokasi.

Menurutnya, hal tersebut sudah diantisipasi oleh TNI-Polri lebih awal. Dimana semua titik strategis sudah dipetakan.

“Latihan ini bertujuan bagaimana kita mengantisipasi apabila memang situasi itu terjadi. Kita TNI-Polri sudah siap mengamankan khususnya di wilayah Sulsel. Ini sudah siap mengamankan semuanya,” paparnya.

Dalam skenario tersebut, kata Josep Tanada, ada tiga titik yang akan dilaksanakan TNI-Polri yang terjadi baik di Telkom, Pasar Sentral maupun di Karebosi.

“Sehingga di tiga titik ini, semua TNI-Polri sudah siap. Tadi kita giring di sentral sini pelaksanaannya. Tahapan yang dilakukan ini adalah tahapan-tahapan yang dilakukan sesuai dengan undang-undang,” bebernya.

Menurut Josep latihan inimerupakan hari keempat dan akan dilanjutkan di seluruh wilayah Sulsel. Pelaksanaan ini akan dilaksanakan selama 12 hari berturut-turut. Dimulai tanggal 28 Januari kemarin dan selesai tanggal 8 Februari 2018 mendatang.

Dalam rangka menghadapi kerusuhan massa. Skenario yang dilakukan, dimulai dari tembakan peringatan menggunakan peluru karet.

“Pentahapan itu sesuai dengan undang-undang. Apabila itu benar terjadi itu akan kita laksanakan. Ini Mengantisipasi. Kalau memang ada kita siap menghadapi,” pungkasnya.(*)


BACA JUGA