Pelatihan kerajinan eceng gondok oleh Pemkot Makassar, Selasa (19/2/2019)/Fadilah Bahar/GOSULSEL.COM

Disdag Makassar Latih UMKM Olah Eceng Gondok Jadi Rupiah

Selasa, 19 Februari 2019 | 12:31 Wita - Editor: Irwan Idris - Reporter: Dila Bahar - Gosulsel.com

MAKASSAR, GOSULSEL.COM — Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Makassar menggelar pembinaan pengrajin industri rumahan tingkat kelurahan Tahun Anggaran 2019 dengan membuat kerajinan dari eceng gondok. Kegiatan ini berlangsung di Hotel Ramedo, Jl Andi Djemma Makassar, Selasa (19/2/2019).

Asisten II Bidang Ekonomi, Pembangunan, dan Sosial Pemerintah Kota Makassar, Irwan Bangsawan menuturkan, selama ini eceng gondok di Kota Makassar khususnya di wilayah genangan drainase sangat mengganggu. Untuk itu, ia menginginkan bagaimana agar eceng gondok bisa dimanfaatkan dengan baik.

“Beberapa waktu lalu, kami bersama LPM mengunjungi kota Malang dan Surabaya. Kita lihat bagaimana eceng gondok di sana sudah berkembang, bahkan mereka sudah beternak eceng gondok dengan kualitas internasional. Tapi kita pada saat itu masih punya eceng gondok yang kecil,” ujarnya.



Menurutnya, apa yang dilakukan pemerintah kota sudah cukup bagus dalam rangka memberikan kesempatan kerja kepada masyarakat. Hanya saja, tantangan yang dihadapi adalah bagaimana memasarkan produk produk tersebut agar bisa terjual hingga keluar negeri.

Kita bisa melihat prpduksi produksi dalam eceng gondok. Bagaimana kita memarket hasil ini. Kemarin ada program Disnaker, 3 in 1 bagaimana memberikan sertifikasi, bagaimana mengajarkan untuk memasarkan hasil kerajinan ini.



“Tadi kita bertanya tentang harga, tapi harganya cukup mahal. Nah bagaimana agar kita bikin yang lebih murah sedikit, supaya banyak orang yang membeli. Hari ini tugas Pemkot Makassar, bagaimana memformulasikan strategis khusus, sehingga ketika bersaing dengan eceng gondok di luar,” terangnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kita Makassar, Indira Jusuf Ismail mengharapkan dari pelatihan tersebut agar para peserta bisa mengedepankan etika dalam berkelompok, yakni tidak merasa cepat puas dari ilmu yang diperoleh sehingga tidak lagi melakukan kerjasama satu sama lain.

“Menurut saya yang paling penting adalah etika. Ilmu itu bisa didapatkan dari mana saja, tapi dalam hal ini dinas perdagangan tentunya sudah mempunyai program program untuk pembinaan terhadap pengrajin pengrajin kita agar bisa meningkatkan kreatifitas nya untuk menghasilkan produk yang layak sampai ke luar negeri,” kata dia.

Ia berharap produk-produk yang dipasarkan nantinya bisa sesuai dengan standar agar bisa bersaing dengan produk produk lainnya di luar kota Makassar.

“Itulah gunanya bikin pelatihan, supaya pengrajin kita lebih memaksimalkan kemampuan dan kreativitasnya untuk menghasilkan suatu produk yang layak dipasarkan. Bagaimana kita mau pasarkan kalau tidak sesuai standar. Karena kita tidak asal memamerkan sesuatu. Kalau tidak sesuai standar tentu kurang yang mau beli,” jelas Indira.(*)


BACA JUGA