Murni, pemilik usaha tempe di Makassar yaitu di Jalan Dg Tata V, Mallengkeri, Makassar/Nurfadilah/Gosulsel.com

Begini Kisah Murni, Belasan Tahun Geluti Produksi Tempe Rumahan

Selasa, 26 Februari 2019 | 13:52 Wita - Editor: Andi Nita Purnama - Reporter: Nurfadillah Amir - Gosulsel.com

MAKASSAR, GOSULSEL.COM — Tempe merupakan makanan yang dibuat dari fermentasi terhadap biji kedelai ditambah beberapa bahan lain. Tempe banyak dikonsumsi di Indonesia, tak terkecuali oleh warga Makassar.

Salah satu produksi tempe di Makassar yaitu di Jalan Dg Tata V, Mallengkeri, Makassar. Usaha rumahan tersebut mampu memproduksi tempe 40 kg perhari.

Tempe banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia, namun kini penggemarnya sekarang telah mendunia. Kaum vegetarian di seluruh dunia banyak yang menggunakan tempe sebagai pengganti daging.

Produksi tempe Murni

Di Makassar, salah seorang pemilik produksi tempe, Ibu Murni mengatakan, sejak tahun 2000 telah memproduksi tempe. Dalam sehari, Ibu Murni dapat memproduksi 40 kg tempe dengan mempekerjakan 5 orang karyawan.
“Sudah lama kayaknya, sejak tahun 2000. Biasanya 40 kg perhari,” ujarnya.

Dari pengakuan Ibu Murni, tempe yang ia produksi kadang habis dan kadangpula bersisa. Tetapi, dari hal tersebut ia dapat mengambil kesimpulan bahwa inilah resiko jadi pedagang sehingga produksi tempe yang Ibu Murni bangun selama 19 tahun ini dapat bertahan sampai sekarang.

“Tidak selamanya habis, kadang habis kadang tidak,” jelasnya kepada Gosulsel.com pada Senin (25/2/2019).

Untuk pemasaran, Ibu Murni dan suaminya menjual secara ecer dan grosir. Beberapa penjual gorengan, nasi kuning dan penjual eceran di pasaran menjadi langganannya. Untuk eceran sendiri pasangan suami istri ini memiliki tempat penjualan di Pasar Terong, Makassar.

“Diantar di pasar, penjual gorengan, penjual nasi kuning. Menjual eceran dan grosir juga,” tuturnya.

Untik membeli bahan-bahan produksi tempe, ia mengeluarkan modal sebesar Rp400.000 setiap harinya. Bahan produksi yang digunakan seperti kedelai, daun pisang dan ragi atau bahan fermentasi.

Sementara itu, diketahui bahwa Indonesia sekarang berusaha mengembangkan galur (strain) unggul Rhizopus untuk menghasilkan tempe yang lebih cepat, berkualitas, atau memperbaiki kandungan gizi tempe. Beberapa pihak mengkhawatirkan kegiatan ini dapat mengancam keberadaan tempe sebagai bahan pangan milik umum karena galur-galur ragi tempe unggul dapat didaftarkan hak patennya sehingga penggunaannya dilindungi Undang-Undang.(*)