Nurfitriany Fakhri, dosen Psikologi Universitas Negeri Makassar (UNM)

Kapan Wanita Disebut Cantik? Begini Jawaban Psikolog

Selasa, 26 Februari 2019 | 16:10 Wita - Editor: Andi Nita Purnama - Reporter: Nurfadillah Amir - Gosulsel.com

MAKASSAR, GOSULSEL.COM — Sebagian orang memandang cantik itu karena penggunaan make up atau juga dengan busana indah yang dikenakan. Namun, sebenarnya cantik itu relatif. Pandanganmu soal cantik, bisa jadi berbeda dengan pandangan orang lain.

Nurfitriany Fakhri, seorang psikolog, mengatakan bahwa pada umumnya cantik itu dalam dua konsep, yaitu cantik secara objektif dan cantik secara subjektif.

“Cantik secara objektif, maksudnya terbentuk dari konstruk harapan dan tuntutan masyarakat mengenai bagaimana kecantikan itu sendiri, sehingga konsepnya bisa terukur. Misalnya dalam satu budaya melihat bahwa yang cantik itu apabila hidungnya mancung, tubuhnya langsing, kulitnya putih,” ujarnya kepada Gosulsel.com.

Lebih lanjut ia mengemukakan bahwa, konsep cantik seperti ini merupakan kesepakatan suatu kelompok masyarakat maupun budaya mengenai bagaimana kecantikan itu seharusnya terlihat, sehingga konsep ini dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti tuntutan masyarakat itu sendiri.



“Kalau secara objektif itu berasal dari kesepakatan bersama dalam masyarakat,” ujar dosen UNM ini.

Di lain pihak, cantik secara subjektif merupakan persepsi dan perasaan pribadi seseorang mengenai apa yang terlihat cantik atau menarik di pandangannya. Ini bergantung pada bagaimana seseorang merasakan kenyamanan, kesenangan, ataupun ketertarikan terhadap subjek maupun objek stimulusnya.

Tidak dipungkiri bahwa kecantikan secara objektif dapat mempengaruhi seseorang melihat bahwa orang lain itu cantik. Namun, pada akhirnya persepsi seseorang mengenai cantik itu kembali pada semua informasi yang bisa dikumpulkan mengenai orang yang dilihatnya.

Sehingga pada akhirnya kecantikan subjektif tidak hanya dilihat dari konsep fisik seseorang saja, tetapi semua atribut yang melekat pada orang tersebut misalnya perilaku dan kepribadian orang tersebut menjadi pertimbangan seseorang untuk memberikan keputusan apakah orang itu cantik atau tidak.

“Inilah yang disebut kecantikan subjektif, karena pada akhirnya berakhir pada pertimbangan dan persepsi individu mengenai bagaimana cantik itu terlihat, dirasakan dan dipikirkannya,” tutupnya.(*)