Ketua Forum DAS jeneberang, Rahmansyah meninjau bendungan Kampili, Selasa (26/2/2019)

Petani Berpotensi Gagal Tanam, Ketua Forum DAS Minta BBWS Jeneberang Segera Keruk Sedimen Bendungan Kampili

Selasa, 26 Februari 2019 | 22:16 Wita - Editor: Irwan Idris - Reporter: Junaid - Gosulsel.com

GOWA, GOSULSEL.COM — Pasca bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Kabupaten Gowa, sekira sebulan lalu, mengakibatkan beberapa saluran irigasi ke persawahan, termasuk Bendungan Kampili belum beroperasi secara maksimal.

Padahal, Bendungan Kampili diketahui mengairi persawahan sekitar 10.545 Ha, yang jika dirata-ratakan dalam satu musim tanam menghasilkan rata- rata 6,5 ton/Ha GKP atau gabah kering panen. Maka produksi satu musim adalah 68.542 Ton GKP. Kalau dikonversi ke beras sebanyak 37.698 ton. Jumlah ini bisa mencukupi kebutuhan beras selama setahun sebanyak 314.150 jiwa dengan komsumsi 120 kg/kapita/tahun.

Bendungan Kampili tidak berfungsi maksimal akibat adanya material longsoran tanah dan pasir bercampur batu yang menutup aliran air menuju pintu air bendung tersebut sepanjang sekitar 100 meter.

Menurut laporan Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Gowa Kusnadi Efendi Daeg Lewa, “Pada bagian depan pintu bendung dipenuhi batang  kayu yang terbawa arus air. Di sisi lain sewaktu terjadi banjir dengan volume air yang sangat tinggi, mengakibatkan tanggul dan Bronjong di sebelah bendung roboh, sehingga terbentuk sungai atau aliran air dengan lebar aliran sekitar 150 meter,” terangnya dalam laporan tertulis kepada Ketua Forum DAS Jeneberang, Rahmansyah, Selasa (26/2/2019).

Kata Kusnadi, posisi baru aliran air menuju Bendungan Kampili berbelok sekitar 300 meter di depan bendung karena aliran air yang menuju ke bendung tertutup material tanah dan pasir bercampur batu.

Karena urgensi Bendungan Kampili tersebut, Ketua Forum DAS Jeneberang, Rahmansyah berharap agar Bupati Gowa, Kepala Balai Pompengan Jeneberang dan seluruh pihak terkait segera melakukan tindakan agar material penghalang air menuju Bendung Kampili bisa segera disterilkan.

Ketua Forum DAS jeneberang, Rahmansyah meninjau bendungan Kampili, Selasa (26/2/2019)

“Saya melihat langsung kondisi bendungan kampili yang sangat mendesak untuk segera ditangani oleh balai besar pompengan dan tentu atas asistensi dinas PSDA provinsi sulsel. Apa yang disampaikan ketua KTNA gowa, perlu segera penanganan serius karena ini terkait kebutuhan air petani di daerah gowa. Kalau sampai gagal tentu yang merasakan dampaknya petani kita,” terang Rahmansyah dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi Gosulsel.com.

Efek yang terjadi bila sedimen tersebut tidak segera dibersihkan, kata Rahmansyah, petani berpotensi mengalami gagal panen. Apalagi, musim tanam para petani mulai dilakukan pada April mendatang.

“Dan yang lebih mendesak lagi karena stok pangan akan terganggu. Olehnya itu dibutuhkan normalisasi sungai yang akan mengarah ke mulut bendungan dan membenahi kembali tanggul yang jebol sebelum bendungan, dan sesegera mungkin membersihkan material yang menutupi jalur sungai ke arah bendungan,” pinta Rahmansyah.(*)


BACA JUGA