Partai golkar

Membaca Anomali Suara Golkar dan Ibnu Munzir di Sulbar

Rabu, 08 Mei 2019 | 21:52 Wita - Editor: Irwan AR - Reporter: Citizen Reporter

Wahyu Hamdani

Oleh: Wahyu Hamdani

Tenaga Ahli Anggota DPR-RI Fraksi Partai Golkar 2014-2019

Pemilu legislatif usai digelar 17 April 2019 lalu. Rekapitulasi sedang terus berjalan secara berjenjang. Menyisakan berbagai hiruk pikuk. Mulai dari banyaknya korban meninggal dari petugas di TPS hingga penghitungan suara ulang. 

Ironi juga tak urung menerpa Caleg dan Partai. Seperti yang juga terjadi di Sulawesi Barat. Fenomena anjloknya suara partai atau tumbangnya petahana juga terjadi. 

Walaupun secara resmi rekapitulasi suara di Provinsi Sulbar belum rampung. Namun dari Websote perhitungan resmi KPU yang sudah menginput data di angka 90 persen itu bisa sudah menggambarkan siapa yang untung dan buntung di Pemilu kali ini. 

Untuk suara Pilpres, dibanding dengan Sulawesi Selatan, Capres-Cawapres nomor 01 menang telak atas Prabowo-Sandi. Sementara untuk Pileg DPR – RI yang hanya menyediakan kuota 4 kursi itu PDI-P memimpin suara dan ditengarai bakal memborong dua kursi senayan dari Sulbar. Disusul Gerindra dan Nasdem serta Demokrat dan Golkar. 

Wilayah Sulbar baik sebelum terbentuk sebagai Provinsi yang terpisah dari Sulsel adalah lumbung suara partai beringin ini. Dan tokoh Golkar yang terkenal dengan tangan dinginnya mengelola Golkar adalah Ibnu Munzir. Politisi kawakan Golkar ini sudah berada di pentas nasional sebagai Legislator senaya semenjak di Sulsel sejak berpuluh tahun sebelumnya. Ia bahkan mengawali semua itu dalam usia yang terbilang muda. Uniknya ia melewati masa reformasi yang tak bergeming untuk menjadi kutu loncat dengan berpindah pindah partai. Singkatnya Golkar adalah bagian yang identik dengan politisi mantan ketua umum HMI cabang Ujung Pandang ini. 

Ibnu Munzir pun sesungguhnya identik dengan Sulbar. Walaupun lahir di Jeneponto dan berdarah dari ulama besar di Sulsel tersebut. Tetapi tangan dingin Ibnu Munzir menjadi salah satu faktor penting terbentuknya Sulbar. Bukan hanya itu, Ibnu kembali bergeliat untuk turut menggenjot percepatan pembangunan di Sulbar. Hasilnya Mamuju Tengah terbentuk. 

Ia tak bergeming dari Golkar dan Sulbar bahkan setelah pemilu 2014 ia harus berada di nomor urut dua dari partai Golkar dan hanya menjadi pengganti antar waktu. Walaupun ruang untuk maju ke titik sebagai kandidat gubernur senantiasa terganjal oleh isu putra daerah, tak juga mengendurkan keterlibtannya untuk terus mengguyur Sulbar dengan program nasional. 

Tetapi Pemilu 2019 sepertinya menjadi titik balik bagi Golkar dan Ibnu Munzir di satu sisi. Keyakinannya untuk terus menggenjot pembangunan di Sulbar tak cukup sampai sebagai pesan politik ke masyarakat atau ke elit lokal di provinsi ini. Suara Golkar tergerus hingga ke urutan lima. Dan harus berada di luar parlemen. Anehnya bila melihat perolehan suara di tingkat provinsi, Golkar urutan kedua setelah Demokrat. Sementara PDI-P meraih suara jauh dari Golkar.

Efek Pilpres bisa saja ditengarai menjadi penyebab tidak liniearnya suara partai di tingkat DPR dan DPRD. Namun Golkar adalah pemegang komando dalam tim pemenangan Jokowi di Sulbar. Yang berarti logikanya partai beringin ini setidaknya bisa meraup kursi kedua atau setidaknya kursi ketiga. 

Bahkan bila harus ditarik dengan sepak terjang Golkar dan Ibnu Munzir maka sangat mengherankan bila suara Golkar harus anjlok.

Betapapun bermunculan spekulasi atas kecurangan tertentu yang dianggap dilakukan massif dan sistematis. Namun Pemilu 2019 sesungguhnya memberikan pengetahuan yang lebih banyak bagi politisi dan akademisi untuk bisa mencerna, ada apa sesungguhnya dengan suara Golkar di Sulbar?