Ketua Ikatan Da'iyah (IKADA) Kabupaten Gowa, Dr. Fatmawati Hilal, M.Ag saat ceramah di Masjid Agung Syekh Yusuf, Senin malam (27/5/2019)

Di Masjid Agung Syekh Yusuf, Ini Pesan Ketua IKADY Gowa

Selasa, 28 Mei 2019 | 04:40 Wita - Editor: Irwan Idris - Reporter: Junaid - Gosulsel.com

GOWA, GOSULSEL.COM – Ketua Ikatan Da’iyah (IKADY) Kabupaten Gowa, Dr. Fatmawati Hilal tampil sebagai penceramah di malam ke 23 Ramadan di Masjid Agung Syekh Yusuf Kabupaten Gowa, Senin malam (27/5/2019).

Dalam ceramahnya, Fatmawati Hilal menjelaskan bahwa selain sebagai ibadah individu, puasa juga merupakan salah satu bentuk ibadah sosial. Menurutnya, ibadah puasa megajarkan umat muslim untuk peka terhadap orang lain.

“Pelajaran yang bisa dipetik dari perintah puasa, yaitu merasakan penderitaan orang lain, melatih kepekaan sosial pada mereka yang kurang beruntung. Puasa adalah Ibadah ritual seorang hamba, yang ditutup dengan perintah mengeluarkan zakat sebagai bentuk ibadah social,” ujarnya.

Lanjutnya, zakat merupakan raksasa ekonomi yang harus dibangkitkan, untuk mengangkat ekonomi umat Islam. Menurutnya, jika perintah zakat dengan berbagai jenisnya itu dilaksanakan dengan baik oleh umat Islam lalu disalurkan tepat sasaran, maka tidak ada umat yang miskin.

“Zakat tidak hanya konsumtif, tapi harus dikelola secara produktif. Sehingga zakat dapat digunakan untuk membantu masyarakat keluar dari garis kemiskinan, lanjutnya.

Selain itu, Dosen Fakultas Syariah dan Hukum Unversitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar in juga mengajak seluruh jamaah Masjid Agung Syekh Yusuf untuk tetap menjaga persatuan, kesatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Rapublik Indonesai (NKRI).

“Sebagai anak bangsa, negeri ini harus dibangun bersama. Berbeda itu hal yang lumrah dan boleh. Tetapi menjaga persatuan dan kesatuan serta keutuhan bangsa adalah wajib hukumnya. Memperjuangkan agama Allah, tidak harus mengorbankan orang lain. Apalagi terhadap faham keagamaan yang berbeda. Allah tentu tidak ridha Jika seorang hamba, karena alasan membela agama Allah kemudaian menghalalkan segala cara atas nama jihad, temasuk melakukan provokasi, fitnah dan tindakan anarkis,” jelasnya.

Dincontohkannya bahwa Ibnu Muljam yang merupakan salah seorang hafidz Qur’an yang kemudian karena keyakinan agamanya, memenggal leher Sayyidina Ali bin Abi Thalib, seorang sahabat terbaik Rasulullah saw dan juga salah seorang sahabat Rasulullah yang sudah dijamin masuk surga.

”Jangan lagi ada Ibnu Muljam Ibnu Muljam modern, yang dengan jubah agama menghalalkan tangannya untuk memenggal kebebasan beragama orang lain,” tegasnya.(*)


BACA JUGA